Jemaat-jemaat
Allah Al Maséhi
[163]
Yesus Kristus dan Qur’an [163]
(Edisi 3
19960511-20040810)
Kekristenan, Yudaisme dan Islam mempunyai
sumber yang sama dalam Abraham.
E-mail: secretary@ccg.org
(Hakcipta ã 1996, 1997, 1999, 2004 Wade Cox)
(tr. 2003/04)
Karya tulis ini boleh disalin semula dan didistribusikan secara bebas dengan syarat ia disalin semuanya tanpa apa-apa perubahan atau penghapusan kata. Nama dan alamat penerbit serta notis hakcipta harus disertakan. Sebarang bayaran tidak boleh dikenakan ke atas penerima-penerima salinan yang didistribusikan. Petikan-petikan ringkas daripadanya boleh dimasukkan ke dalam artikel-artikel kritis dan karya ulasan tanpa melanggar undang-undang hakcipta.
Karya ini
boleh didapati daripada Internet di:
http://www.logon.org
dan http://www.ccg.org
Yesus Kristus dan Qur’an
[163]
Pendahuluan
Dua agama besar di dunia, Kristen dan Islam, pada
saat ini saling bertentangan dan berada di ambang peperangan. Di permukaan,
kedua agama berkaitan dengan Abraham dan keturunannya sebagai inti pokok dari
seluruh keluarga dunia. Secara teoritis, Islam (yang berarti menyerah) menyembah
Tuhan yang sama seperti yang ditemukan dalam halaman-halaman Alkitab. Kita
mengetahui hal ini dari penelaahan terhadap Alkitab dan Qur’an.
Lalu mengapa mereka saling bertentangan hingga taraf, di Mesir contohnya, setelah selama lebih-kurang 1.545 tahun sejak dewan Chalcedon, Gereja Koptik Mesir sekarang ini dianiaya oleh Islam Fundamentalis di negri yang telah mengupayakan hubungan dengan Roma, darimana mereka telah memutuskan hubungan sejak Dewan tersebut (tahun 451). Alasan inilah, yaitu Dewan (yang berciri Trinitarian), yang menjadi penyebab berkembangnya Islam. Mengapa setelah lebih-kurang empatbelas abad hidup berdampingan secara damai hal ini harus terjadi? Apakah Muhammad, berdasarkan bukti-bukti dari Qur’an, mendukung hal ini? Apakah ajaran Qur’an mengenai Yesus Kristus dan apakah Islam masih sama dengan Islam yang pertama kali ada? Tugas kita adalah untuk mengkaji apa yang diajarkan Qur’an meengenai Yesus Kristus dan melihat kepada pegangan moden mengenai Islam dan Kekristenan.
Tuhan di dalam Alkitab dan Qur’an
Pernyataan bahwa konsep Islam mengenai Tuhan
berbeda dengan konsep Kristen, sekalipun terdapat persamaan superfisial, muncul
dari pertimbangan terhadap struktur teologis dari kedua sistem tersebut, yang
telah diubah daripada yang asal. Dalam pengertian Kristen, konsep Ketuhanan
telah diubah oleh pengaruh agama-agama misterius melalui adopsi sinkretis
bersama dengan model tritunggal atau trinitarian. Islam, di sisi lain,
dipengaruhi oleh perkembangan metafisik dari Monisme
Bagi semua keturunan Abraham, Tuhan adalah roh
dan kuasa yang memanifestasikan diriNya pada umatNya dan mempunyai rencana dan
maksud yang jelas bagi semua ciptaan di bawah kepemimpinanNya. Penantian
terhadap seorang Raja, Tuhan atau Mesias telah begitu nyata sejak Abraham dan
dipegang oleh kelompok-kelompok suku-bangsa yang adalah keturunannya. Bangsa
Arab adalah keturunan dari Ismail hingga keduabelas raja (Kejadian
Sekte-sekte Yahudi mengharapkan Mesias di abad
pertama dan Anak-anak Zadok (yang dinyatakan dengan tidak pasti sebagai suku
Essene) menyatakan bahwa akan ada dua Mesias, Mesias dari Harun dan Mesias Raja
dari Israel dan bahwa kedua Mesias ini adalah sebenarnya satu Mesias (lihat G.
Vermes, The Dead Sea Scrolls, versi
bahasa Inggris, mengenai: Pemerintahan Damascus VII dan fragmen dari kasus IV).
Dengan demikian pengharapan yang dipegang adalah bahwa Mesias akan datang
sebanyak dua kali. Setelah kematian Kristus, para rasul, ketujuhpuluh murid dan
murid-murid mereka, menyebarkan Injil ke suku-suku terhilang dan dengan
demikian tradisi Kristeen disebarkan ke Eropa, Mesir,
Yesus Kristus sebagai Mesias
Sang Mesias atau Ia Yang Diurapi dalam Perjanjian Lama digenapi dalam kelahiran Yahoshua atau Yesus melalui Maria atau Maryam dari Nasaret. Silsilah Yesus Kristus (lihat karya tulis Silsilah Yesus Kristus [119]) dalam Perjanjian Baru di Kitab Lukas dimengerti oleh para rabbi Yudaisme sebagaimana juga oleh Heli, ayah Maria atau Maryam.
Istilah Kristus dalam bahasa Yunani berarti Yang Diurapi. Kata ini mempunyai arti yang sama dengan kata Mesias, yaitu Yang Diurapi dalam bahasa Ibrani. Dengan demikian, Kristus dan Mesias mempunyai arti yang sama. Kata Arab untuk terminologi ini dalam Qur’an mempunyai arti yang sama yaitu Yang Diurapi atau Mesias Tuhan. Nabi Muhammad menyebut Yesus Kristus sebagai Mesias dalam berbagai bagian Qur’an dan terutama dalam kutukannya terhadap ketahyulan baru mengenai Trinitas dalam Surah 4 Wanita 171 dimana ia juga menyebut Yesus sebagai Firman; dan dalam Surah 4:172. Surah 86, Al Tariq (Bintang Fajar – sebagaimana diterjemahkan oleh Pickthall) disajikan untuk menjelaskan pentingnya kematian Yesus Kristus, sang Bintang Fajar, yang dengan itu memberikan pembaharuan kepada semua orang atau dilahirkan kembali melalui kematiannya, ditandai dengan pencurahan darah dan air dari luka di lambungnya.
Arti kuno yang asli lainnya dari Al Tariq adalah Ia yang datang di waktu
malam dan Ia yang meengetuk pintu. Pentingnya pernyataan Yesus Kristus di
gereja Sardis dan tentang jaman dan tentang Gereja-gereja (Jemaat) secara umum
dalam Wahyu 3:3 dan Wahyu 16:15 dan pernyataan pada Gereja (Jemaat) Laodikia
dalam Wahyu 3:20 dengan demikian menjadi lebih jelas. Ia menyatakan kepada
Gereja (Jemaat) di Laodikia, dan terhadap jaman, bahwa Ia datang sebagai
Mesias. Ia menyatakan bahwa ia adalah Al Tariq, sang Bintang Fajar, atau Mesias
Raja. Ia juga menyatakan bahwa Gereja-gereja (Jemaat-jemaat), terutama di
Yesus, sang Firman, Imam Besar dalam tatanan Melkisedek adalah sang Bintang Fajar dari planet bumi. Sungguh disayangkan bahwa di dalam bahasa Inggris beberapa pemahaman yang lebih mendalam mengenai nama tersebut terhilang dan memerlukan penjelasan tersendiri. Hal ini dapat dilihat dari Ayub 1:6; 2:1 dan 38:4-7 bahwa ada Bintang Fajar dan Putra-putra Allah yang hadir pada saat penciptaan dunia dan bahwa Putra-putra Allah tersebut, yang termasuk Iblis, mempunyai hak menghampiri Tahta Allah secara terus-menerus. Kristus menyatakan secara samar-samar siapa diriNya di dalam Injil, namun makna sepenuhnya mengenai perkara yang diperkatakannya tidak dipahami. Nama Bintang Fajar di dalam bahasa asli Ibrani dan Arab mempunyai arti yang sama dengan Ia yang datang di waktu malam dan Ia yang mengetuk pintu. Ini terkandung dalam istilah Arab Al Tariq dan dipahami oleh bangsa Arab. Qur’an menunjukkan sebuah pemahaman yang jelas dan pasti mengenai siapakah Sang Bintang Fajar itu. Mari kita telaah Surah 86 Al Tariq (atau sang Bintang Fajar):
Dinyatakan di Mekkah:
1 "Dalam nama Allah, yang maha Pengasih dan Penyayang.
2 Dalam nama surga dan Bintang Fajar.
3 Ah, apa yang akan menjelaskan padamu apakah Bintang Fajar itu!
4 Bintang yang menembus!
5 Tak ada jiwa manusia yang dapat menjagainya.
6 Maka biarlah manusia memikirkan dari apa ia diciptakan.
7 Ia diciptakan dari cairan yang tercurah
8 Yang keluar dari lambung.
9 Lihat! Ia mampu mengembalikan Dia (hidup kembali)
10 Pada hari dimana pikiran yang tersembunyi akan dibukakan
11
12 Demi langit yang memberikan hujan,
13 Dan bumi yang terbelah (dengan tumbuhnya pohon dan tanaman)
14 Lihat! ini (quran) adalah perkataan yang akhir,
15 Bukan perkataan yang menyenangkan belaka.
16 Lihat! mereka membuat persekongkolah (terhadap engkau, Oh Muhammad)
17 Dan Aku membuat rencana (terhadap mereka)
18 Maka berikan penundaan bagi mereka yang tidak percaya.
19 Perlakukan mereka dengan lembut untuk sementara waktu."
Terjemahan Pickthall
Perhatikan ayat 6 dan 7 yang dengan jelas menyatakan bahwa kita diciptakan. Ini merupakan keterkaitan dengan bagian dari penyaliban sang Bintang Fajar ketika Yesus Kristus ditusuk dengan tombak dan dinyatakan mati. Dengan kata lain, pada titik inilah dalam kematian Yesus, sang Bintang Fajar, manusia sebenarnya diciptakan. Tetapi karena manusia diciptakan dari Adam, apa yang sebenarnya dimaksud Muhammad? Ia menyatakan bahwa dimulai pada saat itu manusia diciptakan kembali atau dilahirkan kembali di dalam sang Mesias, Yesus putra Maryam (Maria), sebagaimana ia biasa memanggilnya. Muhammad dengan jelas memaksudkan kebangkitan dari kematian dalam ayat 8 yang dinyatakan disini dalam Bintang Fajar. Beberapa warga Islam berusaha untuk menyatakan bahwa cairan yang tercurah adalah air mani. Akan tetapi, secara anatomis ini tidak masuk akal.
Mereka (Umat Yahudi) mengatakan, ‘Kami membunuh Kristus, Yesus putra Maria, Utusan Tuhan.’ Mereka tidaklah membunuhNya dan mereka tidak menyalibkan Dia, tetapi nampak pada mereka seolah-olah demikian (seolah-olah mereka memang melakukannya). (A H Johns The Koran Pt. II, Bulletin of Christian Affairs, No. 113, July 1981, p. 12)
Tidaklah sesuai bila dinyatakan bahwa Muhammad
menyangkal hal itu dilakukan atau bahwa kematian secara fisik memang terjadi.
Orang Yahudi mendakwa bahawa mereka telah membunuh Kristus dan dia tidak
dibangkitkan. Mererka mendakwa bahawa pada masa itu dia mati dan tetap mati.
Dari kata-kata jelas teks dalam Al Tariq nampak kebalikannya. Adalah sama
mungkinnya bahwa ia sebenarnya menolak pernyataan kaum Yahudi mengenai
kebangkitan. Penambahan di dalam tanda kurung bukanlah tulisan asli. Jika
pengartian Profesor Johns benar, maka Muhammad tidak pantas menjadi nabi karena
ia menentang Hukum Tuhan dan kesaksian (Yesaya
(Karena kata-kata tersebut merupakan bagian dari
pewahyuan dalam tradisi keislaman, terkadang
Muhammad membuat pernyataan dalam Surah 5 Meja yang Dibentangkan 18:
Mereka yang menyatakan bahwa Allah adalah Kristus putra Maryam adalah orang kafir. Nyatakan siapa yang mempunyai kuasa menentang Allah, bahka jika ia bermaksud untuk melenyapkan Kristus putra Maryam, ibunya dan setiap orang di muka bumi.
Kaum Trinitarian berpendirian bahwa Yesus Kristus
adalah Tuhan. Tetapi secara jelas, Yesus Kristus di dalam tubuh manusia
bukanlah Tuhan. Malahan, Alkitab menyatakan bahawa hanya ada seorang Allah yang
benar yang telah mengutus Yesus Kristus. Pengetahuan ini adalah kritikal untuk
hidup kekal (Yohanes 17:3). Konsep bahwa Kristus adalah buah pertama diabaikan
dan konsep trinitarian pada jaman para nabi merusak konsep ketunggalan
spiritual Allah. Lebih-lebih lagi, nama
Allah diambil dari Eloah dan dengan berkesannya bermakna Kuasa itu.
Kristus bukanlah Eloah dan hal ini didukung oleh Alkitab (lihat rangkaian karya
tulis mengenai Ketuhanan, terutama Keillahian
Yesus Kristus [147] dan Pra-Eksistensi
Yesus Kristus [243]). Nama untuk Tuhan di dalam bahasa Latin dan Yunani
(dan juga dalam bahasa Inggris) tidak mengandung arti yang serumit arti dalam
bahasa Ibrani dan Kasdim atau
Dari Surah Al Tariq, umat Kristen dapat memahami apa yang dimaksud ketika Kristus menyatakan bahwa ia adalah pintu (atau, gerbang) dalam Yohanes 10:7. Selanjutnya dalam Matius 7:7 dan Lukas 11:10, pintu telah dibukakan bagi siapa saja yang mengetuk, dan dalam Wahyu 3:20, Lihat Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk. Kesemua tulisan tersebut merupakan referensi yang diambil dari dan menandakan nama dan status Kristus sebagai sang Bintang Fajar, maksud dari pelayananNya dan bahwa ia adalah sang Mesias.
Baik dalam Al Tariq maupun Lembu, Muhammad menyatakan bahwa tidak akan ada penolong atau perantara. Ia tidaklah menyangkal kuasa Kristus dalam penghakiman manusia, tetapi praktik yang semakin berkembang dalam perantaraan melalui manusia, atau melalui Bunda Maria, para malaikat ataupun para orang suci yang telah mati. Contoh lebih jauh adalah dalam Perjalanan Malam pasal 17 ayat 56-57 yang menyatakan,
Jika kamu mau berdoalah kepada siapapun yang kau anggap allah selain Dia. Mereka tak dapat mengangkat bebanmu, ataupun mengubahnya. Mereka sendiri, kepada siapa mereka berdoa, berusaha untuk mendekat pada Allah mereka, saling berlomba untuk mendekat padaNya.
Konsep alkitabiahpun demikian, yaitu bahwa doa harus diucapkan kepada Tuhan saja (dalam nama Yesus), dan bukan kepada yang lain.
Pada jaman para nabi tradisi-tradisi berikut ini telah dipeluk:
Kristus sebagai Anak Allah
Teks-teks
dari Quran yang diambil berasingan memang nampaknya menafikan hakikat Kristus
sebagai Anak Allah. Seperti Alkitab, Quran harus difahami mengikut konteks dan
tidak boleh dibaca secara berasingan.
Trinitas
telah dibina atas dusta Binitarianisme yang diperkenalkan di Nicea pada tahun
325 TM. Konsep Keduaan Kristus dan Tuhan terbit dari kesalahan ini. Nabi (yang
lebih salah lagi dipanggil Muhammad) dihadapkan dengan keperluan untuk terus menyangkal
kesalahan ini kerana sebaran ajaran palsu itu. Mari kita periksa teks-teksnya.
Perempuan
1. [4.171] Wahai Ahli kitab (Yahudi dan Nasrani)! Janganlah kamu
melampaui batas dalam perkara agama kamu dan janganlah kamu mengatakan sesuatu
terhadap Allah melainkan yang benar; sesungguhnya Al Masih Isa Ibni Mariam itu
hanya seorang pesuruh Allah dan Kalimah Allah yang telah disampaikanNya kepada
Mariam dan (dia juga tiupan) roh daripadaNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah
dan Rasul-rasulNya dan janganlah kamu mengatakan: (Tuhan itu) tiga. Berhentilah
(daripada mengatakan yang demikian), supaya menjadi kebaikan bagi kamu.
Hanyasanya Allah ialah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah daripada mempunyai
anak. Bagi Allah jualah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi dan
cukuplah Allah menjadi Pengawal (Yang Mentadbirkan sekalian makhlukNya).
Di sini
kita ada, apa yang bermula sebagai satu hujah sah yang melawan doktrin
Trinitas. Kemudian ia menyatakan “Hanyasanya Allah ialah Tuhan Yang Maha Esa,
Maha Suci Allah daripada mempunyai anak,” dan kerana itu kita tertinggal dengan
hujah bahawa dia menafikan keanakan Tuhan. Bagaimanapun, seperti yang akan kita
lihat Quran tidak menafikan bahawa Tuhan telah meletakkan Kristus di dalam
rahim Mariam melalui Titah Ilahi. Maka Hadis memberi gambaran salah tentang apa
yang dinyatakan Quran di sini.
Sekali
lagi kita lihat tiga teks ini dalam “Mariam”
[19.88] Dan mereka yang kafir berkata: (Allah) Ar-Rahman, mempunyai anak.
[19.91] Kerana mereka ada mengatakan: (Allah) Ar-Rahman mempunyai anak.
[19.92] Padahal tiadalah layak bagi (Allah) Ar-Rahman, bahawa Dia
mempunyai anak.
Jadi
nampaknya kita berhadapan sekali lagi dengan penafian yang sama, dan satu
penafian seluruh prinsip Bapa yang mempunyai anak-anak.
1. [21.26] Dan mereka (yang musyrik) berkata: (Allah) Ar-Rahman mempunyai
anak. Maha Sucilah Ia. Bahkan (mereka yang dikatakan menjadi anak Allah itu)
ialah hamba-hambaNya yang dimuliakan.
Jadi
sekali lagi kita ada satu penafian prinsip keanakan dan kebapaan. Jadi kita boleh
debatkan bahawa umat pilihan adalah hamba-hamba, tetapi bolehkah kita juga
berhujah bahawa kita juga adalah anak-anak dan waris-waris? Sesungguhnya kita
dapat dari teks-teks Alkitab. Sekali lagi, jika itulah pokoknya, maka Quran
tidak layak sebagai satu teks kerana ia bertentangan dengan hukum taurat dan
kesaksian (Yesaya
Orang-orang
Percaya
1. [23.91] Allah tidak sekali-kali mempunyai anak dan tidak ada sama
sekali sebarang tuhan bersamaNya; (kalaulah ada banyak tuhan) tentulah
tiap-tiap tuhan itu akan menguasai dan menguruskan segala yang diciptakannya
dengan bersendirian dan tentulah setengahnya akan bertindak mengalahkan
setengahnya yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang dikatakan oleh mereka
(yang musyrik) itu.
Maka
Diteisme dikecam oleh Quran. Ia juga dikutuk oleh Alkitab. Alkitab cukup jelas
bahawa Tuhan memang telah mengambil anak-anak dan mencipta berbagai anak-anak
Tuhan, dan itu merupakan pengetahuan standard dalam semua sistem-sistem purba.
Penjelasannya adalah bahawa anak-anak Tuhan semuanya telah diciptakan Tuhan
melalui titah Ilahi, dan bukan melalui sebarang perbuatan memperanakkan. Ini
akan menjadi lebih jelas dari Quran sendiri seperti yang akan kita lihat di
bawah.
Teks-teks
di bawah juga nampaknya menyampaikan idea penafian keanakan itu.
Kekebalan
1. [9.30] Dan orang-orang Yahudi berkata: Uzair ialah anak Allah dan
orang-orang Nasrani berkata: Al-Masih ialah anak Allah. Demikianlah perkataan
mereka dengan mulut mereka sendiri, (iaitu) mereka menyamai perkataan
orang-orang kafir dahulu; semoga Allah binasakan mereka. Bagaimanakah mereka
boleh berpaling dari kebenaran?
Hiasan-hiasan
Emas
1. [43.81] Katakanlah (Wahai Muhammad, kepada mereka yang musyrik itu):
Kalau betul Allah Yang Maha pemurah, mempunyai anak (sebagaimana yang kamu
dakwakan) maka akulah orang yang awal pertama yang akan menyembah anak itu;
(tetapi dakwaan kamu itu tidak berasas)!
Juga
ditegaskan bahawa Quran mengajar penafian kematian, pemalangan serta
kebangkitan anak Allah dari ayat berikut:
Perempuan
[4.157] Dan juga (disebabkan) dakwaan mereka dengan mengatakan:
Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih Isa Ibni Mariam, Rasul Allah. Padahal
mereka tidak membunuhnya dan tidak memalangnya (di kayu palang salib), tetapi
diserupakan bagi mereka (orang yang mereka bunuh itu seperti Nabi Isa) dan
Sesungguhnya orang-orang yang telah berselisih faham, mengenai Nabi Isa, sebenarnya
mereka berada dalam keadaan syak (ragu-ragu) tentang menentukan
(pembunuhannya). Tiada sesuatu pengetahuan pun bagi mereka mengenainya selain
daripada mengikut sangkaan semata-mata dan mereka tidak membunuhnya dengan
yakin.
Penjelasan
mudah semua teks-teks ini ditemui dalam teks Surah 19:33-35 “Mariam.”
[19.33] Dan segala keselamatan serta kesejahteraan dilimpahkan kepadaku
pada hari aku diperanakkan dan pada hari aku mati, serta pada hari aku
dibangkitkan hidup semula (pada hari kiamat).
[19.34] Yang demikian sifat-sifatnya itulah Isa Ibni Mariam. Keterangan
yang tersebut ialah keterangan yang sebenar-benarnya, yang mereka ragu-ragu dan
berselisihan padanya.
[19.35] Tiadalah layak bagi Allah mempunyai anak. Maha Sucilah Ia.
Apabila menetapkan jadinya sesuatu perkara, maka hanyalah Dia berfirman
kepadanya: Jadilah engkau, lalu menjadilah ia.
[61.6]
Dan (ingatlah juga peristiwa) ketika Nabi Isa Ibni Mariam berkata: Wahai Bani
Israil, sesungguhnya aku ini Pesuruh Allah kepada kamu, mengesahkan kebenaran Kitab
yang diturunkan sebelumku, iaitu Kitab Taurat [Hukum atau Torah] dan memberikan berita
gembira dengan kedatangan seorang Rasul yang akan datang kemudian daripadaku
bernama: Ahmad. Maka ketika dia datang kepada mereka membawa
keterangan-keterangan yang jelas nyata, mereka berkata: Ini ialah sihir yang
jelas nyata!
[4.159] Dan tidak ada seorang pun dari kalangan ahli Kitab melainkan dia akan
beriman kepada Nabi Isa sebelum matinya dan pada hari kiamat kelak Nabi Isa
akan menjadi saksi terhadap mereka.
Gelaran
“Ahmad” itu mungkin merujuk kepada jemaat dan bukannya kepada Muhammad seperti
yang diandaikan oleh Hadis Islam. Kita akan membincangkan aspek-aspek ini dalam
Komentar Mengenai Quran.
Pada abad
ketujuh kita masih lagi berhadapan dengan Kekafiran yang menyatakan bahawa para
dewa telah turun dan bersetubuh dengan manusia dan memperanakkan anak-anak.
Itulah dakwaan yang dilawan Muhammad. Quran hendaklah dibaca berdasarkan
pemahaman masalah-masalah zaman itu. Surat-surat Paulus juga harus dibaca dan
difahami mengikut konteks.
Hakikatnya
adalah bahawa Tuhan hanya mengatakan ‘Jadilah’, dan Kristus telahpun ada di
dalam rahim Mariam. Dia mati pada palang itu, dimasukkan dalam kubur, dan
bangkit hidup semula dan naik ke syurga selepas tiga hari dan tiga malam dalam
perut bumi.
Nama-nama
Tuhan
Tuhan dikenal dengan berbagai nama dalam bahasa
Yahudi. Ini menciptakan masalah bagi bahasa Inggris. Akar-kata Ibraninya adalah
El. Bentuk tunggal dari Tuhan adalah Eloah. Bentuk jamaknya adalah Elohim. Dalam dewan Kasdim dinyatakan
bahwa sebutannya adalah Elaha’ atau Elahh dan bentuk jamaknya adalah Elahim. Kata bahasa Arab Allah’ merupakan turunan atau bunyi lain
dari Eloah atau Elaha’. Nama Tuhan yang diberikan di Sinai adalah YAH[o]
Tuhan dinyatakan sebagai Tuhan yang hidup yang
berkenan menjadi Tuhan bagi semua pemikiran dan kehidupan manusia pada mana
keberadaanNya sendiri bergantung. Dari Abraham Ia nampak tersembunyi dari umat
manusia dan menyatakan diriNya kepada manusia dalam berbagai tahapan dalam
sejarah dan dalam teofani seperti kepada Musa dan pemberian Hukum Tuhan di
Sinai. Ia selalu menyatakan penyertaanNya pada umatNya dan umat
Inovasi Hadistis dalam Islam ini mempunyai
penyimpangan yang serius sehingga ajaran Yesus Kristus dan para rasul dianggap
bertentangan dan karenanya Alkitab harus sama-sekali ditolak sebagai suatu
kepalsuan. Maksud Allah terhadap bangsa Arab-pun menjadi salah dimengerti.
Deskripsi Muhammad mengenai bangsa Arab sebagai Bangsa Penengah diubah kembali
pengertiannya, pada Abad Pertengahan, menjadi Bangsa Terbaik, dan dengan
demikian kehilangan sudut pandang yang benar atas apa yang dimaksud Muhammad
mengenai terminologi tersebut. Penyimpangan ini tak pelak dipicu dengan
petualangan Gereja Kristen Atanasia terhadap Islam dan polarisasinya yang
total. Terlupakanlah peran sebagai pelindung Bangsa Alkitab atau Nasrani
sebagaimana umat Kristen Nazareth biasa disebut. Sebenarnya, Omar mengeluarkan
sebuah titah perlindangan terhadap umat Kristen di Mesopotamia dan, ketika
invasi terhadap Afrika Utara dan Spanyol terjadi, titah yang sama ini juga
diperluas. Sayangnya, Inkuisisi secara eksplisit diarahkan pada mereka dan juga
menghantam umat Yahudi maupun Islam.
Islam modern tidak memahami bahwa Anak-anak
Alkitab adalah juga bangsa
Dalam periode pasca-pengasingan, nama Adonai digantikan untuk nama perjanjian Yahweh sebagai sebutan sekaligus sebagai penghormatan dan permuliaan, mungkin karena ketidak-mampuan untuk memahami peran bawahan dari Elohim Israel yang adalah Malaikat Agung dari penebusan dan pembebasan Israel dan tentang Mesias (lihat Kejadian 48:15-16; Mazmur 45:6-7; Ibrani 1:8-9).
Nama perjanjian Yah[o]vah diperkenalkan kepada
Musa dan telah, melalui tradisi, menjadi nama Tuhan yang tertulis dan yang
tidak diucapkan. Dari Keluaran 6:2-3 nama ini tidak dikenal oleh Abraham, Ishak
dan Yakub dan hanya secara khusus digunakan untuk
Konsep mengenai keberadaan Tuhan sejati yang tungggal dikelilingi oleh para malaikat, yang diberi nama sebagai putra-putra Tuhan merupakan suatu yang tetap dikumandangkan dalam tulisan-tulisan Perjanjian Lama dan Baru dan dalam Qur’an. Konsep mengenai malaikat yang berhubungan dengan Yehovah ditemukan pada Perjanjian Lama dalam Kejadian 21:17, 22:11, 15:16, 31:11-13; Keluaran 3:2-5; Hakim-hakim 6:11-23 dsb., dimana para utusan Tuhan dikenal sebagai Yehovah sendiri dan di dalam perikop-perikop tersebut berbicara berganti-ganti sebagai malaikat dan sebagai Yehovah dan sekali waktu nama Tuhan sendiri atau Yehovah ditemukan berada dalam malaikat pembimbing (Keluaran 23:20-21). Dalam kasus-kasus tersebut, malaikat berada di dalam bentuk tampilan Yehovah dalam setiap situasi yang spesifik yang disebutkan dan berada dalam rupa manusia tetapi tidak dalam bentuk inkarnasi. Akan tetapi, dinyatakan bahwa tak seorangpun yang pernah melihat Tuhan sehingga malaikat yang muncul menjadi wajah Tuhan dan hal itu disebutkan ketika Musa mendapatkan janji bahwa wajah Tuhan (dalam RSV disebut kehadiran) akan menyertai umatnya di padang gurun (Keluaran 33: 14-15). Figur ini disebut sebagai Elohim dan El atau disebut Tuhan tetapi bukan Yehovih atau Yehovah Agung. Figur ini disebut oleh Yudea sebagai Penghulu Malaikat Mikhail tetapi sekarang dipahami sebagai Yesus Kristus atau Sang Firman, perwakilan Tuhan yang nampak atau kehadiran Tuhan.
Adalah dari aktualisasi Tuhan di dalam perwujudan tunggal sebagai Firman yang disebut Elohim (dan El) dimana nama Tuhan yang dinyatakan terjadi. Kata jamak Elohim ini diterapkan pada para malaikat atau para utusan yang tampil kepada Eloah. Adalah dari konsep ini kaum Paulisia dituduh telah menyebut Yesus Kristus sebagai malaikat (lihat ERE, artikel mengenai Paulisia, Volume 9, hal. 696).
Nama Allah merupakan turunan dari nama Tuhan yang
diucapkan, terutama dari terminologi Ibrani Eloah. Elohim yang jamak, juga
merupakan turunan dari bentuk tunggal ini. Secara tradisional, YHVH tidaklah
diucapkan. Adonai digunakan untuk SHD 3068 dan Elohim untuk SHD 3069. Elohim,
walaupun terkadang berbentuk tunggal, pada dasarnya adalah kata jamak dan
seringkali menyertai kata kerja jamak. Untuk menyebut nama dari pribadi Tuhan
didalam bentuk yang tidak tegas dan tunggal, digunakanlah nama Eloah. Eloha di
dalam pengertian generik juga dapat diartikan pada sebuah konsep negatif berupa
bukan Tuhan atau sama sekali bukan tuhan (Ulangan 32:17) dimana penyangkalan
terhadap kuasa dan Allah Bapa diperlukan. Eloah (atau Allah) digunakan untuk
membedakan antara Tuhan yang Kekal (yang disebut sebagai Allah Bapa) dan Elohim
sebagai sang Firman, sang Wajah, atau Hadirat Tuhan. Malaikat Hadirat Tuhan ini
disebut dalam Keluaran 23:20. Ia menyandang nama Tuhan, karena namaku ada dalam
Dia. Sebuah contoh yang baik dari perbedaan ini ada dalam Mazmur
32 "Sebab siapakah Allah selain dari Tuhan,
Dan siapakah gunung batu kecuali Allah (Elohim) kita?"
Konsep bahwa Firman Tuhan adalah sebuah bentuk illahi yang terpisah ditemukan dalam kebiasan bahwa hakim sebagai elohim dalam penghakiman mereka yang dibimbing oleh Tuhan, seperti juga para imam.
Eloah digunakan "empatpuluh-dua kali dalam
kitab Ayub dan hanya limabelas kali di tempat yang lainnya (seperti dalam
Ulangan 32:15, 17; Mazmur
Islam yang berpandukan Hadis menolak Kristus dan
dengan itu menyangkal Quran
Islam moden menolak komentar mengenai Mesias dan menyatakan dari sejumlah teks dalam Qur’an bahwa Muhammad tidak memberikan perbedaan terhadap Yesus Kristus, sepereti dalam Surah 6 Sapi pada ayat 81-91 dan secara spesifik dalam ayat 86, Yesus disebut sebagai Yang Maha Benar. Pada kenyataannya, pengelompokkan tulisan ini dengan jelas menunjukkan bahwa hikmat itu merupakan pemberian Tuhan dan tidak berasal dari manusia. Tuhan membukakan pada para orang terpilih kebenaran dan memberikan kuasa dan kenabian Alkitab. Kepatuhan terhadap firmannya yang diungkapkan merupakan sesuatu yang kondisional untuk mempertahankan pengetahuan dan otoritas; dan penghapusan otoritas kepada orang-orang patuh lainnya, hukuman untuk ketidak-patuhan. Ini merupakan pengulangan pernyataan Yesus Kristus dalam Matius 21:43.
Teks-teks berikut adalah penting bagi memahami peranan Kristus dalam Quran dan teks-teks ini mengulangi pendirian Alkitab.
1. [5.43]
Dan (sungguh menghairankan), bagaimana mereka meminta keputusan hukum kepadamu,
padahal di sisi mereka ada Kitab Taurat yang mengandungi hukum Allah,
kemudian mereka berpaling pula sesudah itu (dari hukumanmu)? Dan (sebenarnya)
mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.
2. [5.44]
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat, yang mengandungi petunjuk
dan cahaya yang menerangi; dengan Kitab itu Nabi-nabi yang menyerah diri
(kepada Allah) menetapkan hukum bagi orang-orang Yahudi dan (dengannya juga)
ulama mereka dan pendita-penditanya (menjalankan hukum Allah), sebab mereka
diamanahkan memelihara dan menjalankan hukum-hukum dari Kitab Allah (Taurat)
itu dan mereka pula adalah menjadi penjaga dan pengawasnya (dari sebarang
perubahan). Oleh itu janganlah kamu takut kepada manusia tetapi hendaklah kamu
takut kepadaKu (dengan menjaga diri dari melakukan maksiat dan patuh akan
perintahKu) dan janganlah kamu menjual (membelakangkan) ayat-ayatKu dengan
harga yang sedikit (kerana mendapat rasuah, pangkat dan lain-lain keuntungan
dunia) dan sesiapa yang tidak menghukum dengan apa yang telah diturunkan oleh
Allah (kerana mengingkarinya), maka mereka itulah orang-orang yang kafir.
3. [5.46]
Dan Kami utuskan Nabi Isa Ibni Mariam mengikuti jejak langkah mereka (Nabi-nabi
Bani Israil), untuk membenarkan Kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya dan
Kami telah berikan kepadanya Kitab Injil, yang mengandungi petunjuk hidayat dan
cahaya yang menerangi, sambil mengesahkan benarnya apa yang telah ada di
hadapannya dari Kitab Taurat, serta menjadi petunjuk dan nasihat pengajaran
bagi orang-orang yang (hendak) bertakwa.
4. [5.66]
Dan kalau mereka bersungguh-sungguh menegakkan (menjalankan perintah-perintah
Allah dalam) Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepada mereka dari
Tuhan mereka (Al-Quran), nescaya mereka akan makan (yang mewah) dari atas
mereka (langit) dan dari bawah kaki mereka (bumi). Di antara mereka ada sepuak
yang adil dan kebanyakan dari mereka, buruk keji amal perbuatannya.
5. [5.68]
Katakanlah: Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak dikira mempunyai sesuatu agama
sehingga kamu tegakkan ajaran Kitab-kitab Taurat dan Injil (yang membawa
kamu percaya kepada Nabi Muhammad) dan apa yang diturunkan kepada kamu dari
Tuhan kamu (iaitu Al-Quran) Dan demi sesungguhnya, apa yang diturunkan kepadamu
(wahai Muhammad) dari Tuhanmu itu, akan menambahkan kederhakaan dan kekufuran
kepada kebanyakan mereka. Oleh itu janganlah engkau berdukacita terhadap kaum
yang kafir itu.
6. [5.110]
(Ingatlah) ketika Allah berfirman: Wahai Isa Ibni Mariam! Kenanglah nikmatKu
kepadamu dan kepada ibumu, ketika Aku menguatkanmu dengan Rohulqudus (Jibril),
iaitu engkau dapat berkata-kata dengan manusia (semasa engkau masih kecil)
dalam buaian dan sesudah dewasa dan (ingatlah) ketika Aku mengajarmu menulis
membaca dan hikmat pengetahuan, khasnya Kitab Taurat dan Kitab Injil dan
(ingatlah) ketika engkau jadikan dari tanah seperti bentuk burung dengan
izinKu, kemudian engkau tiupkan padanya, lalu menjadilah ia seekor burung
dengan izinku dan (ingatlah ketika) engkau menyembuhkan orang buta dan orang
sopak dengan izinku dan (ingatlah) ketika engkau menghidupkan orang-orang yang
mati dengan izinKu dan (ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil daripada
membunuhmu, ketika engkau datang kepada mereka dengan membawa
keterangan-keterangan (mukjizat), lalu orang-orang yang kafir di antara mereka
berkata: Bahawa ini hanyalah sihir yang terang nyata.
Dalam Surah 5 Pembukaan Meja 46, 78 dan 110 dan seterusnya, kita melihat bahwa Injil diberikan kepada Yesus Kristus untuk mengkonfirmasikan apa yang telah dibukakan sebelum Dia, seperti pemenuhan Hukum Tuhan dan kita memberikan kepada Dia Injil dimana bimbingan dan cahaya mengkonfirmasikan apa yang telah (diungkapkan) sebelum Injil itu di dalam Taurat – sebuah bimbingan dan nasihat bagi mereka yang tersesat (kejahatan).
Muhammad menyatakan dengan samar-samar pada ayat 47 bahwa Umat Firman Tuhan akan dihakimi dengan apa yang diwahyukan dan bahwa: … Mereka mendapatkan kita untuk membukakan kebenaran Firman Tuhan, maka bedakanlah diantara mereka dengan apa yang telah diwahyukan Allah pada kita …
Sebuah bagian yang jelas-jelas membingungkan muncul pada ayat 51 karena Muhammad dikatakan telah membuat kontradiksi terhadap dirinya sendiri saat mengatakan, Hai kalian yang percaya! Janganlah berteman dengan Yahudi ataupun Kristen. Mereka keduanya saling berteman.
Disini Muhammad membuat perbedaan yang jelas antara Umat Firman Tuhan (contohnya kaum Syeba) dan mereka yang secara umum ia sebut Kristen. Ia membedakan antara Gereja Tuhan, yang pada saat itu berkedudukan di dataran tinggi Syria, Armenia dan Mesopotamia, yang mematuhi Hukum Tuhan dan ajaran Yesus Kristus, dan sekte-sekte gereja Kristen utama umumnya yang telah mengadopsi sejumlah adat-istiadat kafir dan melakukan ketakhyulan yang serius, termasuk Trinitas.
Para penulis di masa selanjutnya menyertakan komentar ini sebagaimana yang dilakukan oleh Pickthall pada ayat 53 setelah, Maka orang-orang percaya akan mengatakan (kepada Umat Firman Tuhan), Apakah ini yang bersumpah demi Allah dengan sumpah yang paling mengikat bahwa mereka benar-benar beserta denganmu? Karya mereka telah gagal dan mereka telah menjadi pecundang. Teks ini berkesesuaian dengan janji Yesus Kristus dalam kitab Wahyu kepada jemaat (gereja) di Filadelfia, dimana mereka yang mengatakan bahwa mereka adalah Yahudi, tetapi bukan, dan sesungguhnya adalah jemaat Iblis, akan menyembah (proskuneo) orang-orang pilihan.
Muhammd menyatakan, dalam Surah 42 Nasihat ayat 13, bahwa agama (dari
mereka yang menyerah) dimulai oleh Abraham, Musa dan Yesus dan tidaklah
terpecah-belah, yang dikenal sejak jaman Nabi Nuh. Pendirian ini adalah yang
kita pahami sebagai dasar dari agama sejak jaman Nabi Nuh dan hukum-hukum Tuhan
yang dipahami dari Nabi Nuh. Yudaisme rabinis menyebutnya hukum Nuh dan
menyatakannya sebagai sesuatu yang berbeda dengan hukum Taurat sebagaimana yang
diperoleh dari tradisi lisan turun-temurun. Hukum ini bersumber dari Adam
(lihat dalam serial mengenai Hukum Tuhan:
[L1], dan karya-karya tulis [252-263] dan [281]. Tak ada perbedaan
Alkitabiah antara hukum Tuhan yang diberikan kepada Musa dan hukum yang
dijalankan oleh Nuh dan Abraham dan yang dilakukan oleh Melkisedek di
Pada ayat 14 Surah 42, Muhammad menyatakan bahwa kepercayaan telah berpecah selepas pengetahuan diberikan dan dipicu oleh persaingan (atau oleh pertimbangan duniawi) dan bahwa mereka yang diciptakan untuk mewarisi Firman Allah di generasi berikutnya, yaitu sesudah perpecahan, dipenuhi dengan keraguan mengenainya. Dengan kata lain, sistem gereja-gereja utama ini menjadi terpecah-belah dan murtad. Dengan jelas ia menyebutkan aliran Difisit/Monofisit dan aliran doktrin Kalsedonia, dan kekeliruan mendasar mereka dalam kaitannya dengan doktrin asli yang dipraktikkan oleh apa yang disebut kaum Paulisia.
Muhammad menyatakan, dalam Surah 43 Hiasan Emas ketika membahas mengenai penetapan agama, bahwa Mesir menjadikan terang pada Musa (ayat 54). Disini Firaun dan Mesir digunakan dalam pengertian klasik Alkitabiah mengenai dosa dan kekuasaan dunia. Ia juga menyatakan bahwa umat mentertawakan Yesus Kristus.
Muhammad, sesuai wahyu di dalam Qur’an,
menyatakan tentang Yesus Kristus, bahwa Ia tidak lain adalah hamba (dari Tuhan,
yaitu Abd Allah, yang dianggap sebagai jabatan tertinggi dari Tuhan) pada siapa
kita (yaitu Eloah, atau Elaha’) bersahabat dan kita menjadikannya sebuah pola
untuk anak-anak
Katakan (Oh Muhammad): Kami percaya pada Allah dan apa yang diwahyukan kepada kami dan apa yang telah diwahyukan kepada Abraham dan Ismail dan Ishak dan Yakub dan suku-suku, dan apa yang telah dipercayakan pada Musa dan Yesus dan para nabi dari Allah mereka. Kami tidak membeda-bedakan mereka, dan kepadaNya kami menyerahkan diri.
Dan siapapun yang memeluk agama selain agama Penyerahan (pada Allah) tidaklah akan diterima darinya, dan ia akan menjadi pencundang dalam kekekalan.
Istilah Menyerah diterapkan pada Musa, Yesus Kristus dan Muhammad di dalam Perjanjian Lama dan Baru dan Qur’an. Kata bahasa Arab untuk menyerah adalah Al Islam. Istilah pecundang dalam kekekalan hanya dapat diterapkan dalam pengertian memperoleh kebangkitan dan penghakiman yang lebih rendah tingkatannya.
Dari komentar, Kami tidak membeda-bedakan mereka dst., kaum Islam masa kini berusaha untuk menyangkal keberadaan Atanasia dan kemudian, entah bagaimana, mengabaikan ajaran Yesus Kristus yang sebenarnya tidak dibenarkan oleh Muhammad. Pendirian ini tidaklah jauh berbeda dengan firman Yesus Kristus sendiri ketika ia menyampaikan Wahyu kepada Yohannes. Dalam Wahyu 22:7-9 Yesus mengatakan:
7 "Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!" 8 Dan aku, Yohanes, akulah yang telah mendengar dan melihat semuanya itu. Dan setelah aku mendengar dan melihatnya, aku tersungkur di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya. 9 Tetapi ia berkata kepadaku: "Jangan berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah!"
Pernyataan Yesus Kristus dan Muhammad adalah
sama. Penggunaan istilah kurios atau
Tuhan di dalam kaitannya dengan Yesus Kristus adalah dalam pengertian pemimpin
atau pemerintah, bukan seperti yang digunakan Muhammad disini dalam pengertian
Tuhan. Istilah tersebut tidaklah membuat perbedaan antara keduanya adalah dalam
hal inspirasi dari pesan yang disampaikan, tetapi Injil Kerajaan Allah adalah
pesan dari buah-buah sulung dan dari Roh Kudus Pentakosta, jadi Muhammad tidak
dapat menyangkal Yesus Kristus sebagai buah sulung karena itulah keseluruhan
misiNya, dan yang memang diakui oleh Muhammad, sebagaimana yang dinyatakan
dengan amat jelas di dalam Al Tariq. Apa yang memang dilakukan Muhammad adalah
untuk menghancurkan secara total konsep Atanasia mengenai Trinitas, yang memang
tidak pernah dipegang oleh Gereja Kristen yang awal, dan yang telah menyebabkan
mereka terus-menerus dianiaya (lihat terjemahan Profesor Roth mengenai Titah
Iman [the Edict of the Faith] pada tahun 1512 dari Andres Del Palacio,
Inkuisitor Wilayah Valensia – C. Roth, The
Spanish Inquisition). Islam tidak dapat menyangkal Yesus Kristus lalu tetap
menjadi Islam. Haruslah diingat bahwa Muhammad menulis untuk menentang
ketakhyulan trinitarian. Mereka menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan
yang sejati sementara Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa hanya ada satu
Tuhan yang sejati dan bahwa Yesus Kristus adalah putraNya yang Ia utus (Yohanes
17:3; 1Yohanes
Dalam Surah 57 Besi, Muhammad, pada ayat 26-27, menunjukkan bahwa kepercayaan yang diberiken kepada Nuh dan Abraham dan bahwa kenabian dan Firman Tuhan dipercayakan pada keturunan mereka, dan bahwa para utusan (atau nabi) dibuat mengikuti jejak-langkah Nuh dan Abraham, dan bahwa Yesus dibuat mengikuti dan diberi Injil dan bahwa Tuhan menimbulkan belas-kasih dan kemurahan di dalam hati mereka yang mengikuti Dia. Ia menggunakan ayat-ayat itu untuk secara spesifik membantah bahwa monastisisme bukanlah titah Tuhan. Signifikansi hal ini amatlah besar. Sekte-sekte yang mempraktikkan penyimpangan non-Alkitabiah ini pada saat itu mencakup Atanasia maupun Monofisit. Kaum Paulisia adalah satu-satunya sekte yang tidak melakukan hal itu. Hal ini tidak lagi mempunyai unsur Alkitabiah sama seperti ketika Muhammad tidak mengabsahkannya dengan perkataan ini yang ditujukan bagi Tuhan, Tetapi mereka menciptakan monastisisme – Kami tidak mentahbiskannya untuk mereka.
Dari ayat 25,
Kami mengirimkan utusan kami dengan bukti yang jelas dan mewahyukan mereka dengan Injil dan Keseimbangan agar umat manusia menggunakan ukuran yang benar.
Umat Firman Tuhan diperingatkan pada ayat 29 bahwa mereka sama sekali tidak punya kendali atas pembalasan Tuhan tetapi pembalasan itu berada di tangan Tuhan untuk dijatuhkan pada siapapun yang diinginkanNya. Ini merupakan penentangan secara langsung terhadap doktrin-doktrin yang diterbitkan pada tahun 590 Masehi oleh Gregorius I saat ia mendirikan Tahta Suci Roma sementara, yang berakhir setelah 1.260 tahun atau pada tahun 1850 Masehi. Roma menitahkan bahwa otoritas sementara berada di tangan Gereja Roma. Berdasarkan "Bull Unam Sanctam", keselamatan dianggap mustahil di luar Gereja Roma. Ini tentu saja merupakan sesuatu yang bertentangan dengan Alkitab dan juga bertentangan dengan apa yang dinyatakan Qur’an.
Firman Tuhan dijaga oleh Yudea sampai tibanya Mesias dan Firman itu beserta Perjanjian Baru tersedia pada masa kini. Gulungan kitab Laut Mati menunjukkan bahwa Alkitab adalah tetap sama seperti yang digunakan pada jaman Yesus Kristus. Dengan demikian Islam tidak dapat menyatakan bahwa Alkitab telah sama sekali menyimpang.
Dalam Surah 61 Kedudukan (Jemaah), di ayat 6, Muhammad mengatakan,
Dan ketika Yesus putra Maryam mengatakan ‘Hai anak-anak Israel, lihatlah aku adalah utusan Allah bagimu, meneguhkan semua yang telah diwahyukan sebelum aku di dalam Taurat dan membawa kabar baik mengenai seorang utusan yang akan datang setelah aku; yang namanya adalah yang Terpuji. Akan tetapi sekalipun Ia telah datang bagi mereka dengan bukti yang nyata mereka berkata ‘Ini hanyalah sihir’.
Dituduhkan bahwa istilah yang Terpuji (atau Ahman) adalah, karena merupakan salah satu dari nama-nama nabi, menyebut tentang dirinya sendiri, tetapi orang lain mengatakan bahwa istilah itu digunakan untuk Roh Kudus atau sang Penghibur, dan yang lain lagi mengatakan itu adalah nama bagi keduanya dan merupakan bukti bagi penerimaan Muhammad. Akan sangat luar biasa bagi Muhammad bila tidak memahami peran Roh Kudus dan agaknya mustahil jika ia berusaha untuk menempatkan dirinya dalam peran Roh Kudus.
Pada ayat 14, ia menyebut mengenai perbedaan pendapat antara dua pihak umat Israel, ketika Yesus Kristus bertanya kepada para rasul siapakah pembantunya, dan ada yang percaya dan yang tidak percaya, dan mereka yang percaya dikuatkan oleh Tuhan dan menjadi lebih unggul.
Seseorang hanya dapat mengasumsikan bahwa yang ia
maksud disini ia menyebut mengenai 40 tahun masa karunia untuk terjadinya
pertobatan di dalam kerangka tanda Yunus dan penggenapannya adalah kehancuran
Bait Allah pada tahun 70 Masehi dan perusakan Yerusalem dari 1 Nisan tahun 70
Masehi hingga Nisan 71 Masehi, tepat 40 tahun setelah kematian Yesus Kristus.
Gereja Tuhan melarikan diri ke
Dari Surah 19 Maria dan Surah 21 Nabi-nabi, kita
melihat bahwa Muhammad menyajikan silsilah para nabi dengan Ishak dan
Dari Surah Maria, kita mendapatkan pernyataan yang jelas mengenai kelahiran Yesus Kristus dari wanita perawan, tetapi kisahnya nampak berkaitan dengan Injil Apokriptik Mesir, kecuali bila komentar yang diberikan bersifat alegori yang mungkin memang disengaja, dan mengandung maksud mengenai masa pemisahan (lihat karya tulis Pemurnian dan Sunat [251]). Menyangkut pernyataan bahwa Maria jelas mengandung sebelum menikah, uraian dalam ayat 27 mungkin adalah pengungkapan tentang anggapan dari pihak sanak-keluarga atau desa tempat tinggalnya.
Pada ayat 28, Muhammad membuat observasi yang paling penting dimana ia menyebut Maria sebagai saudara perempuan Harun. Dalam Matius dan Lukas kita memperoleh silsilah Yesus Kristus, yang adalah dari Daud – di dalam Matius – melalui Salomo; dan dalam Lukas, melalui Natan (lihat karya tulis Silsilah Mesias [119]). Yesus Kristus berada dalam garis keturunan Yehuda dan kedua garis keturunan tersebut bersumber dari Yehuda, namun agar memenuhi nubuatan tentang dua kali kedatangan Mesias, Mesias Harun dan Mesias Israel, garis keturunan dari suku Lewi diperlukan. Garis keturunan Yudea saja tidaklah memadai untuk melengkapi nubuatan ini, yang kita tahu menyebar dari tulisan Anak-anak Zadok. Lebih lanjut, nubuatan di dalam Zakharia 12:10-14 menunjukkan bahwa "mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam", keluarga dari garis keturunanNya nampaknya adalah dari Daud melalui Natan (ayat 12) dan Lewi melalui Simei (ayat 13). Karena saudara sepupu Maria, Elisabet, adalah istri dari Zakharia, imam besar dari Pembagian Abiya, dan karena keterbatasan yang ditetapkan pada kaum Lewi dalam kitab Bilangan, Elisabet dan, mungkin karena itu, Maria, adalah sepenuhnya Lewi, dalam hal Elisabet dan sebagian Lewi dalam hal Maria, memungkinkan Zakharia untuk digenapi dan Yesus Kristus adalah Mesias dari Harun dan Israel. Pernyataan Muhammad bukanlah kekeliruan ataupun istilah umum, namun merupakan kesamaan terhadap nubuatan di dalam Zakharia, mungkin menunjukkan bahwa ia juga telah membaca dan memahami Zakharia.
Kekacauan timbul menyangkut penyangkalan oleh Muhammad bahwa Tuhan akan mengambil seorang putra bagi diriNya. Baik Kekristenan Atanasia dan Islam masa kini tidaklah memahami takdir pamungkas umat manusia sebagai putra-putra Tuhan, dan bahwa Yesus Kristus adalah buah sulung dari hal ini.
Muhammad berusaha untuk menyangkal pendirian kaum Atanasia mengenai Trinitas yang membatasi konsep rohani dari kesatuan dan keberadaan kekal dengan Tuhan membatasi Yesus Kristus pada konsep putra tunggal dan tersendiri di dalam pengertian keberadaan fisik sebagai manusia. Muhammad sama sekali tidak menyangkal bahwa Yesus Kristus adalah Mesias dan buah sulung. Bahkan, ia menyatakan hal itu.
Tradisi Hadist yang awal menunjukkan bahwa Alkitab disalin ke dalam bahasa Ibrani pada jaman Muhammad, dan mempunyai dua sumber. Hexaplas Origen disalin ke dalam bahasa Ibrani dalam beberapa tahap dan Alkitab tersedia di Pella dan Arabia pada jaman-jaman awal, sementara Gereja Tuhan telah berdiri di wilayah dataran tinggi Mesopotamia. Hukum Tuhan dan Hukum para Nabi tentunya tersedia sejak jaman dinasti Yudea di Mekkah dan Felix Arabia secara umum.
Islam masa kini memalsukan bahwa buku-buku yang dibaca oleh Muhammad tidaklah sama dengan yang terdapat sekarang ini dan dengan demikian mereka tidak perlu mematuhi ketentuan dari Muhammad untuk mempelajari Taurat dan naskah yang berisikan Perjanjian Baru. Gulungan kitab Laut Mati menunjukkan kelirunya ajaran tersebut.
Dari tulisannya, Muhammad dengan jelas mengakui Yesus adalah Kristus, sang Mesias. Kaum Suni dan Syiah melakukan terhadap ajaran Muhammad hal yang sama seperti yang dilakukan Roma terhadap Injil Kerajaan Allah. Bahkan, karena hal inilah, dan karena penyembahan berhala bangsa Arab, Muhammad memulai pelayanannya. Islam masa kini mempunyai dispensasi yang berbeda, mereka melanggar Sabat melawan perintah langsung dari Muhammad, dan tidak mematuhi hukum tentang makanan karena mereka tidak memahami hukum yang dinyatakan di dalam Taurat, karena mereka tidak membacanya. Seseorang tak dapat membaca Qur’an secara terpisah dari Alkitab dan mencapai pemahaman. Penutupan kebenaran ini, walaupun dilakukan secara tidak sengaja, juga berlangsung sekarang ini. Di dalam karya terjemahannya yang sebenarnya baik, N.J. Darwood telah menganggap Al Tariq sebagai Pengunjung di Waktu Malam dari arti nama tersebut yang paling menyimpang. Nama ini digunakan lebih jarang dari Bintang Fajar dan Ia yang Berdiri di Pintu dan Mengetuk, tetapi dikenal dan digunakan dalam 1 Tesalonika 5:2, karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam.
Sekalipun nama ini kehilangan artinya yang
mendalam bagi pembaca Alkitab berbahasa Inggris maupun
Dengan demikian kita dapat melihat perkembangan
tradisi ini sejak jaman Musa, yang memberikan komentar kenabian yang pertama
dalam Kejadian 17:19 dan di saat pemberian janji kepada Yudea dalam Kejadian
49:10, Tongkat Kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan
dari antara kakinya, sampai dia [Syiloh] datang yang berhak atasnya, maka
kepadanya akan takluk bangsa-bangsa. Nubuat Musa dalam Ulangan
Pengharapan umum dari tradisi Yehuda-Kristen-Islam adalah kedatangan Mesias, Raja Kebenaran, yang akan mendirikan kekuasaanNya selama 1.000 tahun (Wahyu 20:4) yang disebut Milenium. Tradisi Kristen adalah bahwa Milenium (atau Chiliad) akan didahului dengan kebangkitan yang pertama dari Pelekizu (para martir, atau mereka yang dianiaya karena Yesus Kristus). Kebangkitan yang ke dua atau yang menyeluruh terjadi pada akhir dari Milenium.
Satan (juga disebut Azazel [Ibrani] atau Iblis [Arab]) dibelenggu selama 1.000 tahun dan dilepaskan pada akhir dari Milenium pada saat mana ia akan sekali lagi menyesatkan dunia dan perang yang terakhir terjadi.
Penyesatan yang terakhir ini akan diikuti dengan pemusnahan total bangsa-bansa, dan kemudian kebangkitan yang ke dua atau yang menyeluruh. Qur’an, dalam Surah 18 Gua ayat 95-101, menyebut perang akhir Gog dan Magog ini dengan namanya dan menunjukkan bahwa adalah pada saat itu sangkakala yang terakhir akan dikumandangkan untuk kebangkitan orang mati yang menyeluruh dan penghakiman sebagaimana yang telah kita lihat. Sangkakala yang terakhir sebenarnya adalah dua sangkakala (Surah 39:68 Pasukan, dan Surah 79:6 Ia yang Ditarik ke Depan dan seterusnya). Pasukan akan menjadi pemula penghancuran bangsa-bangsa, dan yang kedua untuk kebangkitan, dan pada ayat 69-75 ditunjukkan penataan Buku Penghakiman.
Yesaya 65:20 menunjukkan bahwa sebuah periode 100 tahun akan terjadi setelah kebangkitan yang ke dua agar semua dapat memperoleh keselamatan. Setelah itu penghakiman dan pemusnahan mereka yang tidak bertobat akan terjadi.
Nubuatan Alkitab menandakan bahwa Elia (atau
seseorang yang ditempati roh Elia) akan dikirim untuk memberi amaran tentang
kedatangan Mesias (Maleakhi 4:5). Matius
Tradisi Mahdi dalam Islam menyatakan bahwa Jaman Akhir atau Hari Kiamat akan didahului dengan sebuah periode kekacauan secara universal. Penderitaan dan penekanan akan diakhiri dengan pemunculan Imam Mahdi sebagai pemulih keadaan dan raja dari Kerajaan Milenia (atau Chiliastic). Kerajaan ini akan dihancurkan oleh Daddjal, si iblis, (juga disebut dalam Wahyu 20:4-12) yang pada gilirannya akan dikalahkan oleh Nabi Isa (Yesus Kristus) yang akan memulihkan keadilan. Para pengikut Imam Mahdi telah mengacaukan ajaran mengenai Akitab dan Qur’an telah menempatkan Elia, atau sang Imam Mahdi, sang Penterjemah dari Hukum Tuhan dalam DSS, sebagai pemulih dan raja dari Milenium, dan mereka kemudian menyatakan bahwa Isa atau Yesus Kristus datang setelah pelepasan Iblis (dalam hal ini Daddjal), untuk peperangan terakhir atau Gog dan Magog sebelum kebangkitan yang ke dua. Dari situ diketahui bahwa mereka tidak menyadari bahwa ada dua peperangan Gog dan Magog, satu di awal dan satu di akhir dari Milenium. Akan tetapi penantian akan nabi ini adalah tetap sama.
Pengharapan Mesianis dalam Islam telah dipeluk oleh pergerakan Ahmadiyyah yang didirikan oleh Mirza Ghulam Armad di akhir abad ke 10 yang telah mengambil konsep Hindu dan juga konsep Mesianis Timur Tengah (lihat K. Cragg [juga terdapat dalam Ling 7.37 dan 7.39], Islam and the Muslim, Open University Press, 1978, hal. 70). Karena itu konsep ini adalah konsep yang sesat.
Dalam Surah 18 Gua kita menemukan, dalam ayat 95-111, bahwa Gog dan Magog (Pemimpin dan Bangsa) mula-mula dibatasi secara alegoris oleh gundukan diantara bangsa-bangsa (pegunungan) dan pada ayat 99 dan 100 kita menemukan bahwa mereka dilepaskan di saat peniupan sangkakala terakhir dan dihancurkan oleh Tuhan sebelum tibanya Hari Kebangkitan pada ayat 106. Taman Firdaus disebut sebagai upah selepas kebangkitan pada ayat 108, tetapi diasumsikan bahwa yang dimaksudkan adalah taman yang ke dua atau yang terbaru.
Simbolisme pegunungan disini mempunyai berbagai variasi arti alegoris. Dari Alkitab kita tahu bahwa bangsa-bangsa (selalu dilambangkan dengan pegunungan) diratakan dan dihancurkan oleh Yesus Kristus, tetapi setelah pelepasan Iblis, Gog dan Magog muncul kembali untuk peperangan yang ke dua dan terakhir. Nampaknya Muhammad menggunakan gundukan ini sebagai pelambang untuk meniadakan perbezaan pada kekuasaan nasional di bawah pemerintahan Mesias, tetapi sekalipun demikian, tetap kekal pada identitas genetis sebagaimana yang menjadi pengharapan dalam batasan yang disebutkan oleh Musa. Hubungan antara batasan alami pegunungan Kaukasus tidaklah terhindarkan bagi bangsa Arab di jaman Muhammad dan, karena itu, pernyataan ini harus dianggap sebagai alegori yang penting. Pesan dari Qur’an harus diinterpretasikan dalam konteks Alkitab.
Apabila dibaca dan diertikan secara terpisah dari kitab lain, Qur’an, sebagaimana juga Perjanjian Baru, boleh diselewengkan, dan tidak dapat dihindari dari menjadi sumber perpecahan, penganiayaan dan peperangan. Apabila ketiga-tiga Kitab tersebut dibaca secara serentak, yang mana sepatutnya demikian, pemahaman mungkin menjadi nyata dan satu rencana keselamatan yang lengkap akan muncul yang mana tidak boleh disalah ertikan.