Jemaat-jemaat Allah Al Maséhi
[174]
Kerajaan Tuhan [174]
(Edisi 2.0 19960824-19990610)
Panduan Tuhan bagi kerajaan juga merupakan konsep alkitab yang paling disalahgunakan. Ianya ditetapkan manusia dalam lingkungan konsep-konsep yang kononnya berasal dari Kitab Suci tetapi umumnya berdasarkan prinsip-prinsip sistem-sistem bangsa lain dalam dunia ini. Kebanyakan dari Kekristianan hari ini tidak faham bahawa terdapat pelbagai anak-anak Tuhan dan bahawa Iblis merupakan seorang anak Tuhan di kalangan mereka di dalam Sidang tersebut. Pertikaian mengenai struktur kerajaan adalah masalah asalnya di dalam Bani syurgawi itu dan merupakan sebab kepada pemberontakan yang membabitkan Iblis dan sepertiga dari angkatan syurgawi itu. Struktur kerajaan Tuhan dikaji di dalam karya ini.
Christian Churches of God
PO Box 369, WODEN ACT 2606,
AUSTRALIA
E-mail: secretary@ccg.org
(Hakcipta ã
1996, 1999 Wade Cox)
(Tr. 2003)
Karya tulis ini boleh disalin semula dan didistribusikan secara bebas dengan syarat ia disalin semuanya tanpa apa-apa perubahan atau penghapusan kata. Nama dan alamat penerbit serta notis hakcipta harus disertakan. Sebarang bayaran tidak boleh dikenakan ke atas penerima-penerima salinan yang didistribusikan. Petikan-petikan ringkas daripadanya boleh dimasukkan ke dalam artikel-artikel kritis dan karya ulasan tanpa melanggar undang-undang hakcipta.
Karya ini boleh didapati daripada Internet di:
http://www.logon.org dan http://www.ccg.org
Kerajaan Tuhan [174]
Topik pemerintahan kerajaan mungkin merupakan topik paling penting di dalam Alkitab. Ia berpusat pada perintah pertama atau yang besar itu (Ulangan 6:5; 10:12; 30:6; Matius 22:38) yang merupakan ekspresi empat perintah pertama hukum bersepuluh. Perintah kedua menyerupainya: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Imamat 19:18; Matius 22:39). Perintah besar kedua merupakan rangkuman enam perintah terakhir hukum bersepuluh. Pada kedua perintah ini tergantung seluruh hukum taurat dan kitab para nabi (Matius 22:40). Maka itu, seluruh hukum taurat dan kitab para nabi merupakan lanjutan atau huraian bagi struktur utama yang terkandung di dalam dua perintah itu serta hukum bersepuluh.
Ibadah kepada Allah Maha Esa, secara perlunya, adalah berunsurkan penurutan kehendakNya dan dengan itu tindakan menurut perintahNya yang secara logiknya merupakan ekspresi kehendakNya. Kehendak Tuhan tidak terbit dengan begitu saja. Hukum-keteraturan Tuhan terbit daripada kudratNya (lihat karya Perbezaan di dalam Hukum [096) dan di bawah).
Panduan Tuhan untuk kerajaan juga merupakan konsep alkitab yang paling disalahgunakan. Ianya ditetapkan manusia dalam lingkungan konsep-konsep yang kononnya berasal dari Kitab Suci tetapi umumnya berdasarkan prinsip-prinsip sistem-sistem bangsa lain dalam dunia ini.
Pertikaian ke atas struktur kerajaan adalah masalah asalnya dengan bani syurgawi dan merupakan penyebab pemberontakan itu. Memang, pemberontakan itu adalah suatu pertelingkahan yang melibatkan Iblis dan sepertiga dari bani syurgawi itu yang cuba untuk menggulingkan Tuhan dan mereka yang taat kepada Tuhan, serta merebut takhta itu dan kuasa yang menyertainya (Yesaya 14:12-15).
Yesaya 14:12-15 "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa! 13 Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. 14 Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! 15 Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur.
Pandangan ini juga ditemui di dalam Yehezkiel 28:12-19.
Yehezkiel 28:12-19 “Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah. 13 Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit, batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan pada hari penciptaanmu. 14 Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. 15 Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. 16 Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya. 17 Engkau sombong karena kecantikanmu, hikmatmu kaumusnahkan demi semarakmu. Ke bumi kau Kulempar, kepada raja-raja engkau Kuserahkan menjadi tontonan bagi matanya. 18 Dengan banyaknya kesalahanmu dan kecurangan dalam dagangmu engkau melanggar kekudusan tempat kudusmu. Maka Aku menyalakan api dari tengahmu yang akan memakan habis engkau. Dan Kubiarkan engkau menjadi abu di atas bumi di hadapan semua yang melihatmu. 19 Semua di antara bangsa-bangsa yang mengenal engkau kaget melihat keadaanmu. Akhir hidupmu mendahsyatkan dan lenyap selamanya engkau."
Pengaburan kedua teks ini jelas terlihat di dalam banyak terjemahan. Agama-agama dunia, secara umumnya, tidak memahami teks-teks ini dalam ertikata suatu perang syurgawi antara Allah dan KerubNya yang Menutupi/Melindungi, iaitu Bintang Fajar planet ini. Ini memusatkan pertentangan tersebut dan menunjukkan masalahnya. Iblis ingin mendapatkan kuasa, tanpa kasih. Tuhan ingin berkongsi kuasa, dalam kasih. Perkongsian kuasa ini telah dijanjikan oleh Mesias di dalam Wahyu 3:21. Pemberontakan itu telah mengakibatkan peperangan di atas langit yang masih lagi di dalam proses penyelesaiannya. Iblis telah mengambil sepertiga dari anak-anak Tuhan atau bintang-bintang bani syurgawi itu bersamanya di dalam pemberontakan tersebut. Bintang-bintang ini telah dibuang ke bumi dan ditahan di situ selepas satu tempoh masa (Wahyu 12:4,13).
Wahyu 12:1-17 Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. 2 Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. 3 Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. 4 Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. 5 Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. 6 Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya. 7 Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, 8 tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. 9 Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya. 10 Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. 11 Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. 12 Karena itu bersukacitalah, hai sorga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat."13 Dan ketika naga itu sadar, bahwa ia telah dilemparkan di atas bumi, ia memburu perempuan yang melahirkan Anak laki-laki itu. 14 Kepada perempuan itu diberikan kedua sayap dari burung nasar yang besar, supaya ia terbang ke tempatnya di padang gurun, di mana ia dipelihara jauh dari tempat ular itu selama satu masa dan dua masa dan setengah masa. 15 Lalu ular itu menyemburkan dari mulutnya air, sebesar sungai, ke arah perempuan itu, supaya ia dihanyutkan sungai itu. 16 Tetapi bumi datang menolong perempuan itu. Ia membuka mulutnya, dan menelan sungai yang disemburkan naga itu dari mulutnya. 17 Maka marahlah naga itu kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus.
Perhatikan di dalam teks ini terjadinya suatu perang yang telah berlaku di antara bani syurgawi setia di bawah Mikhael serta bani derhaka di bawah Iblis. Iblis di sini disebutkan sebagai pendakwa saudara-saudara. Perempuan di sini, pertama sekali adalah Israel dan kedua, adalah Jemaat dan anak itu adalah Mesias. Umat pilihan atau orang-orang kudus adalah mereka yang memelihara perintah-perintah Tuhan serta kesaksian Yesus Kristus. Perang itu adalah ke atas sistem pengaturan alam semesta. Para rasul tidak memahami, sebelum pembaharuan mereka, bahawa sistem dunia itu tidak akan datang dari sistem mereka (Lukas 22:24-26). Dari teks di dalam Wahyu kita dapat memahami bahawa terdapat suatu sistem pemerintahan di syurga dan bahawa sistem tersebut berpusat pada Allah yang Maha Tinggi. Pemberontakan Iblis serta bani derhaka itu membabitkan sepetiga dari anak-anak Tuhan. Iblis cuba untuk menggulingkan Tuhan dan menjadikan dirinya sebagai Yang Maha Tinggi. Pemahaman mengenai pemberontakan tersebut di kalangan umat Ibrani dahulu jelas tertulis dan buku-buku seperti Buku Henokh (contohnya The Ethiopic Book of Enoch, M. A. Knibb, Oxford Clarendon, 1982 reprint, Vols. 1 and 2) yang telah dikemaskinikan dari Skrol-skrol Laut Mati (DSS) menunjukkan dengan terperinci pemahaman mengenai penglibatan anak-anak Tuhan dari teks-teks alkitab serta apa yang difahamkan sebagai keadaan-keadaan penderhakaan itu.
Banyak dari Kekristianan moden, tidak kira Binitarian atau Trinitarian, tidak memahami bahawa terdapatnya pelbagai anak-anak Tuhan. Mereka mengabaikan Ayub 1:6 serta 2:1 yang menunjukkan bahawa terdapatnya pelbagai anak-anak Tuhan dan bahawa Iblis juga merupakan seorang anak Tuhan di kalangan mereka di dalam Sidang itu (Ayub 38:4-7). Ayat 7 menunjukkan bahawa terdapat pelbagai Bintang-bintang Fajar, iaitu pangkat yang dipegang oleh Iblis (iaitu Pembawa Terang atau Lucifer putera fajar (Yesaya 14:12,15; Yehezkiel 28:14-19) dan Kristus telah mewarisi pangkat tersebut (2 Petrus 1:19; Wahyu 2:28; 22:16). Bintang-bintang Fajar ini adalah anak-anak Tuhan dan istilah bintang digunakan secara saling berganti (Wahyu 1:20; 6:13; 8:10,12; 9:1; 12:1,4). Salah seorang dari bintang-bintang ini telah dinubuatkan akan muncul dari Yakub (Bilangan 24:17). Bintang ini adalah Mesias.
Banyak yang dapat kita rumuskan dari teks-teks alkitab ini mengenai cara kerajaan didirikan dari permulaan di bawah pimpinan khemah suci syurgawi. Kita dapat melakukan ini dengan agak terperinci kerana khemah suci atau bait suci duniawi itu telah didirikan sebagai gambar sistem syurgawi itu (Ibrani 8:5). Struktur kerajaan Tuhan harus diteliti mengikut urutan.
Bahagian 1. Tuhan dan KerajaanNya di dalam Keluarga Tuhan
1. Signifikans Kudrat Tuhan kepada Sistem Kerajaan
Kedudukan kudrat Tuhan di dalam penentuan struktur kerajaan kedua-dua
Jemaat serta bangsa-bangsa adalah sangat penting sekali. Kudrat Tuhan
menentukan hukum-aturan dan bahawa kemudiannya barulah ditentukan sistem dalam
mana letaknya penyembahan.
2. Anak-anak Tuhan
Mula-mula sekali kita harus melihat apa yang telah ditetapkan Tuhan
dari permulaan. Kita dapat rumuskan banyak dari sini mengenai kudratNya dan
cara bagaimana Dia mengkehendaki bani syurgawi itu diperintah atau memerintah
dirinya (rujuk karya-karya Kepentingan
Istilah Anak Allah [211] dan Pra-Kewujudan
Yesus Kristus [243]).
Bahagian 2. Tujuan Penciptaan
Kita dapat meneruskan kepada penciptaan dan
memastikan tujuannya serta cara dalam mana Tuhan membenarkan bani syurgawi
beroperasi di dalam atau ke atas penciptaan. Tujuan ini dibincangkan di dalam
karya Tujuan Penciptaan dan Pengorbanan
Kristus [160].
Bahagian 3. Aturan Penciptaan Fizikal
Kita dapat lihat dari Pentateuch serta hukum taurat apakah sistem yang telah dipilih Tuhan untuk struktur kemanusiaan. Kita dapat lihat bagaimana Tuhan telah campur tangan serta mengenali apakah perubahan-perubahan jika ada pada hukum-aturan Tuhan. Struktur ini dikenalpasti di bawah tajuk-tajuk berkenaan:
1.
Doktrin Dosa Asal Bahagian 1 Taman Eden (246)
2.
Doktrin Dosa Asal Bahagian 2 Generasi-generasi Adam [248]
3.
Perundangan serta keimamatan Nuh
4.
Pemberontakan selepas banjir dan penubuhan sistem dunia atau Babilon
5.
Sistem keluarga para Bapa
6.
Keluaran dan penyampaian hukum taurat
Bahagian 4. Israel di bawah Para Hakim
Israel di bawah para Hakim merupakan satu zaman yang jelas menonjol di dalam aplikasi hukum-hukum Israel serta pemerintahan bangsa itu. Banyak yang boleh dipelajari di dalam zaman ini mengenai bagaimana Allah Bapa, atau Eloah, telah mengaplikasikan hukum-hukumNya di bawah elohim Israel. Pekerjaan Roh Kudus sewaktu tempoh ini di bawah arahan Malaikat Yahovah adalah penting. Ini telah dikaji di dalam karya pertama Samson dan Para Hakim [073]. Karya-karya seterusnya akan membincangkan para Hakim itu serta pemerintahan mereka sehingga kepada Samuel.
Bahagian 5. Israel di bawah pemerintahan raja
1. Karya pertama di dalam siri ini adalah Daud dan Goliat [126].
Perubahan-perubahan kepada cara pemerintahan Tuhan di bawah pimpinan raja merujuk khas kepada penubuhan Kerajaan itu di bawah Mesias.
2. Kejatuhan
raja-raja
3. Pemulihan-pemulihan di bawah pemerintahan diraja
Pemulihan-pemulihan tersebut mempunyai rujukan khusus kepada Tujuh Perayaan Paskah Terbesar Alkitab [107].
Bahagian 6. Israel di bawah Keimamatan
Bahagian ini membincangkan proses pemerintahan di Israel sebelum kedatangan Mesias dan pengadilannya oleh Mesias.
Bahagian
7. Jemaat
Struktur rohani iaitu Jemaat itu dikenalpasti dan sistem di bawah mana ia diperintah diteliti. Ianya dibahagikan kepada tiga bahagian.
1. Para
Bapa Kaum dan Para Nabi
2. Jemaat Kerasulan
Bahagian ini juga akan membincangkan:
a. Arahan-arahan yang diberikan oleh Kristus untuk pemerintahan Jemaat; dan
b. pelaksanaan arahan-arahan tersebut di dalam Jemaat Kerasulan.
Juga dibincangkan adalah:
c. Kejatuhan Yerusalem; dan
d. Sistem Synagogue dan pembentukan Jemaat
3. Jemaat di dalam Penyelerakan.
Jemaat di dalam Penyelerakan telah dibincangkan di dalam karya-karya ini:
a. Distribusi Umum Jemaat Pemelihara Sabat 1122]; dan
b. Peranan Hukum Keempat di dalam Jemaat-jemaat Tuhan Pemelihara Sabat
dalam Sejarah [170].
Karya-karya selanjutnya akan mengisahkan:
c. Pengikut-pengikut Nikolaus [202];
d. Aplikasi sistem-sistem Dunia kepada Pemerintahan Jemaat;
e. Binatang serta Gambar Binatang;
f. Organisasi Terkini Optimum untuk melakukan
tanggungjawab-tanggungjawab kita pada zaman akhir; dan
g. Pekerjaan di bawah Penganiayaan.
Fasa ini akan berakhir dengan Kedatangan Semula Mesias.
Bahagian 8. Kedatangan Semula dan struktur Milenium
Siri karya ini membincangkan nubuatan-nubuatan akhir zaman. Terdapat beberapa pertindihan maklumat di dalam karya-karya ini. Karya-karya yang dikeluarkan atau akan dikeluarkan mengenai hal-hal ini melibatkan:
1. Milenium di dalam Nubuatan;
2. Tafsiran-tafsiran Nubuatan Milenium;
a. Milenium dan Keghaiban [095];
3. Sangkakala-sangkakala, termasuklah:
a. Kedatangan Semula Mesias; dan
b. Perjamuan Kahwin Anak Domba;
4. Pendamaian;
5. Tujuh Meterai [140] termasuklah
a. Tujuh Sangkakala [141];
6. Perang-perang Akhir;
7. Kerajaan
Milenium Tuhan
a. Umat 144,000;
b. Kumpulan Orang Banyak;
c. Pemulihan Israel;
d. Memerintah Bangsa-bangsa; dan
e. Kesalahan dan Hukuman
8. Hari Besar Terakhir;
a. Kebangkitan Orang Mati [143];
b. Penghakiman Terhadap Para Iblis [080];
9.
Sistem Alam Semesta yang Baru.
Tuhan
dan KerajaanNya di dalam Keluarga Tuhan
Signifikans Kudrat Tuhan
kepada Sistem Kerajaan
Doktrin kudrat Tuhan adalah penting kepada penentuan struktur pemerintahan kedua-dua jemaat dan para bangsa serta sistem hukum-peraturannya.
Perbincangan mengenai kudrat Tuhan asasnya berkait kepada pernyataan Tuhan di dalam penciptaan serta sistem hukum-peraturan yang dinyatakan melalui hamba-hambaNya para nabi. Prinsip-prinsip asasnya adalah bahawa:
1. Tuhan telah menyatakan diriNya di dalam penciptaan dalam kebenaran untuk dikenali umat manusia (Roma 1:18-21). Tidak patutnya ada penahanan kebenaran itu untuk tujuan kejahatan. Apa yang dapat dinyatakan oleh Tuhan telah dinyatakan oleh Tuhan. Dia menyatakan kudratNya, kuasa serta keilahianNya yang jelas kelihatan dari penciptaan dan dari wahyuNya.
2. Tiada seorangpun yang pernah melihat Tuhan ataupun mendengar suaraNya (Yohanes 1:18; 1Timotius 6:16).
3. Dia telah memilih untuk berurusan dengan manusia dengan cara tertentu melalui hamba-hambaNya para nabi (Nehemia 9:30; Yeremia 7:25-26; 29:19).
4. Hamba-hamba ini telah memberikan kita suatu rekod tentang bimbinganNya kepada umat manusia yang telah diilhamkan kepada mereka dan disampaikan sebagai Kitab Suci (Ayub 32:8; 2 Timotius 3:16; 2Petrus 3:2; Wahyu 10:7).
5. Pimpinan tersebut membabitkan satu hukum-peraturan yang konsisten dan koheren yang sesuai untuk semua bangsa (Roma 16:26).
6. Mereka yang mendakwa bertindak untukNya haruslah berbicara sesuai dengan hukum-peraturan itu serta kesaksian para nabi yang lain (Yesaya 8:20).
7. Nabi-nabi ini merupakan teladan iman dan kesabaran (Kisah 7:52; Yakobus 5:10).
8. Hukum-peraturan ini adalah tetap dan telah diteguhkan semula oleh Yesus Kristus di dalam pelayanannya (Matius 5:17-19).
9. llah satu-satunya yang abadi (1 Timotius 6:16) (lihat karya Mengenai Keabadian [165]).
10. Hidup kekal diberikan kepada manusia melalui pengenalan Allah yang Maha Esa dan anakNya Yesus Kristus (Yohanes 17:3; 1Yohanes 5:20).
Teologia
Kita dapati dari fakta-fakta Alkitab ini bahawa pengetahuan akan Tuhan adalah penting untuk keselamatan dan bahawa pengetahuan ini didapati dari penciptaan dan dari Alkitab. Dengan itu, Ketuhanan bukanlah suatu rahsia dan, sememangnya, mengenali Allah dan Anak yang telah diutusNya merupakan satu syarat untuk menganggotai umat pilihan dan menerima hidup kekal. Pengetahuan teologikal ini terbit dari pernyataan langsung Tuhan di dalam Kitab Suci dan di dalam alam ciptaan. Elemen pertama ini merupakan pernyataan langsung Tuhan kepada umat manusia dan, melalui kesaksian Yesus Kristus serta pembaptisan Roh Kudus manusia dapat mengambil bahagian di dalam kudrat ilahi itu sama seperti Kristus (2Petrus 1:4) yang kemudiannya menjadi anak Tuhan yang berkuasa melalui Roh Kudus dengan kebangkitannya dari mati (Roma 1:4,6; 8:15,23; 9:4; Galatia 4:5; Efesus 1:5). Maka kita adalah pewaris-pewaris bersama Kristus (Roma 8:17; Galatia 3:29; Titus 3:7; Ibrani 1:14; 6:17; 11:9; Yakobus 2:5; 1Petrus 3:7).
Kita telah diberikan pengetahuan akan Tuhan serta merupakan para pengurus rahsia-rahsia Tuhan (Matius 13:11; Lukas 8:10; 1Korintus 4:1) dan dengan itu, kita dapat menjawab tentan harapan yang ada di dalam diri kita itu (1Petrus 3:15). Oleh itu, sesiapa yang mengatakan Tuhan adalah rahsia yang tidak mungkin diketahui bukanlah dari umat pilihan.
Sistem-hukum atau ekonomi Keselamatan
Elemen kedua iman adalah pengetahuan tentang kehendak Tuhan. Hukum-peraturan Tuhan disebutkan sebagai ekonomi keselamatan (oikonomia). Istilah diterbitkan dari perkataan oikos nomos iaitu peraturan pengurusan sesuatu keluarga. Peraturan pengurusan keluarga Tuhan ini adalah hukum yang telah disampaikan para malaikat di dalam tangan seorang pengantara (Kisah 7:53; Galatia 3:19).
Hukum-peraturan ini dengan sendirinya tidak memberikan keselamatan tetapi sebaliknya, iman di dalam korban Kristus merupakan penebusan dan keselamatan yang diberikan melalui kasih karunia (Roma 4:11-24) kerana kita percaya bahawa Tuhan telah membangkitkan Kristus dari mati untuk pembenaran kita (Roma 4:24-25).
Namun begitu, terdapat satu hukum-peraturan dan seorang Allah sebenar. Hukum Tuhan terbit dari kudrat Tuhan dan adalah sesuatu yang tidak berubah selaku hasil kudratNya dan bukan sewenang-wenangnya (lihat karya Perbezaan di dalam Hukum [096]).
|
Tuhan adalah: |
|
HukumNya adalah: |
|
|
Benar |
(Ezra 9:15) |
Benar |
(Mazmur 119:172) |
|
Sempurna |
(Matius 5:48) |
Sempurna |
(Mazmur 19:7) |
|
Suci |
(Imamat 19:2) |
Suci |
(Roma 7:12) |
|
Baik |
(Mazmur 34:8) |
Baik |
(Roma 7:12) |
|
Kebenaran |
(Ulangan 32:4) |
Kebenaran |
(Mazmur 119:142) |
Dari situ, dapat dilihat bahawa perbezaan-perbezaan agama antara Trinitarianisme mencerminkan seorang Tuhan yang berbeza dan suatu sistem hukum-peraturan yang berlainan. Tuhan di dalam Trinitarianisme adalah seorang Tuhan Bertiga (Triune) (lihat karya Catherine Mowry LaCugna GOD FOR US: The Trinity and Christian Life, Harper, San Francisco, 1991). LaCugna setuju bahawa pernyataan-pernyataan yang dibuat mengenai kudrat Tuhan haruslah berdasarkan sejarah keselamatan (halaman 4). Definisi serta pemahaman keselamatan ini merupakan masalah yang dipertikaikan. Sebagai contoh, Kejadian 48:15-16 menunjukkan bahawa Malaikat Penebus/Pelepasan itu adalah Elohim Israel. Namun pernyataan alkitab yang begitu jelas disangkal oleh Trinitarianisme. Sebabnya mudah. Hukum-peraturan sistem Trinitarian bukanlah hukum-peraturan alkitab tetapi berdasarkan pada hukum-hukum para bangsa serta binatang Rom yang mana jemaat Trinitarian merupakan gambarnya. Bangsa-bangsa lain telah mendirikan suatu sistem yang mendapat ekpresinya dari orang-orang Babilon dan diperturunkan seperti yang ditentukan oleh nubuatan. Sistem hukum-peraturan bangsa-bangsa lain ini telah melalui sistem Babilon kepada Medo-Persia, Yunani dan Divisi-divisi Hellenistik dan kemudiannya kepada sistem Roma (lihat Daniel 2:31-45; 4:18-37; 7:2-27). Ini disebutkan sebagai Masa Bangsa-bangsa Lain (lihat karya Kejatuhan Mesir: Nubuatan tentang Lengan-lengan Patah Firaun [036]).
Alkitab memberitahu kita bahawa Tuhan terpaksa membinasakan planet ini dengan banjir dan memasukkan semula populasi manusianya di dalam Nuh dan keturunannya disebabkan kejahatan sistem pra-banjir. Setelah banjir itu, satu lagi sistem telah dibangunkan dari Babilon di bawah pimpinan Nimrod, dan sistem agama ini telah tersebar ke seluruh dunia (Kejadian 10:8-11; 11:1-9). Sistem hukum yang telah ditubuhkan di bawah bangsa-bangsa itu adalah berbeza dari yang didirikan di bawah Nuh, dari Sem melalui keimamatan Melkisedek, dan kemudiannya anak-anak Abraham melalui Musa dan Para Bapa. Kristus memberitahu kita bahawa sistem bangsa lain itu bukanlah sistem bagi Jemaat dan Kerajaan Tuhan (Matius 20:25-28; 23:11).
Sistem Rom menghadapi masalah bagaimana untuk mengawal sebuah struktur agama yang sedang berkembang pesat ke seluruh Empayar Rom. Sistem alkitab mengajar tentang seorang Tuhan yang berlainan berbanding sistem Yunani-Roma, kultus-kultus Misteri, serta sistem orang-orang Celt Hyperborea. Lebih khusus lagi, ia mengajar suatu sistem hukum-peraturan yang berlainan. Perbezaan di dalam sistem hukum-peraturan ini ditentang oleh keseluruhan sistem pemerintahan Yunani-Roma yang telah ditubuhkan mengikut kehendak tuhan dunia ini, iaitu penguasa kerajaan angkasa (2Korintus 4:4; Efesus 2:2) menurut nubuatan-nubuatan yang telah diberikan di dalam Daniel (seperti di atas).
Pihak Yunani-Roma menghadapi masalah di dalam mempergunakan kuasa iman Kristian tanpa sistem-sistem hukum-peraturan yang menyertainya serta pengenalpastian jelas satu-satunya Allah sebenar. Perang teologi ini telah membentuk sidang-sidang Nicea pada tahun 325 hingga kepada Chalcedon pada tahun 450-1. Perkembangan sistem tersebutt kepada Ketuhanan Triune juga merupakan suatu ciri sistem-sistem bangsa yang lain (contohnya di kalangan orang-orang Celt, ianya adalah Taranis, Teutates dan Esus.)
Bangsa Teuton dan khususnya orang-orang Anglo-Saxon, Lombard dan Burgundy merupakan pengikut sejenis agama Kristian yang bersifat Unitarian, yang tegas sekali menyangkal Trinitas itu. Orang-orang Lombard dianggap sebagai satu suku yang berhubung rapat dengan Anglo-Saxon (lihat juga Historian’s History of the World, Vol. 7, halaman 115-116, 426-456, Vol. 9, halaman 2,17-18,23 dan lain-lain teks serta catatan sampingan). Bagaimana golongan Lombard telah menjadi apa yang sekarang ini disebutkan sebagai Arian tidak diketahui di dalam sejarah (H. Hist., Vol. 7, halaman 115). Suku-suku Jerman secara klasiknya dikenali sebagai bangsa Scythia (H. Hist., Vol. 4, halaman 611). Orang-orang Scythia, dan dengan itu suku-suku Jerman, membentuk sebahagian dari kumpulan yang dikelaskan sebagai Parthian. Mereka datang dari Persia serta Asia tengah. Orang-orang Goth dan Vandal, sebahagian dari kumpulan ini, telah membinasakan Greece dan Olympus (mereka merupakan ikonoklas). Suku-suku ini bergerak ke barat ke Eropah. Suku Heruli mungkin merupakan suku paling tidak stabil di antara mereka. Mereka adalah Unitarian dari pengaruh di luar empayar tersebut. Suku Lombard memasuki Itali dengan sistem mereka sendiri yang mengandungi para penatua atau biskop, paderi serta diakon (H. Hist., Vol. 7, halaman 115, nota 4). Ini mewujudkan suatu struktur yang berbeza dari, dan bersaing dengan, sistem kepaderian Rom.
Mereka berkonflik dengan sistem Roma itu, seperti mana dengan Yunani. Pertikaian ini berlanjutan selama beberapa abad dan orang-orang Rom akhirnya memenanginya dengan mempergunakan kekuatan ketenteraan bangsa Frank untuk mengatasi orang-orang Arian. Semua ini disebutkan sebagai Perang-perang Arian dan akan dikaji secara berasingan. Sistem Roma telah menjerumuskan Eropah ke dalam Zaman Kegelapan daripada menerima sistem hukum-peraturan yang satu lagi ini.
Orang-orang Yunani-Roma mengalami kesulitan untuk membuang sistem hukum-peraturan Tuhan umat Ibrani ini daripada sistem Kristian yang telah memasuki masyarakat Hellenisasi. Untuk menghapuskan hukum ini, Mesias telah ditinggikan kepada darjat setara dengan Allah Maha Tinggi dari Kitab Suci Perjanjian Lama. Ini hanya dapat dilakukan melalui apa yang kini dikenali sebagai Binitarianisme. Kristus dijadikan sama abadi dan sama setara dengan Allah. Kekacauan falsafah yang timbul dari kepalsuan teologikal ini telah mengakibatkan pertikaian-pertikaian abad keempat sehinggalah Constantinople pada tahun 381. Doktrin-doktrin Paulus telah dimanipulasikan untuk menghancurkan kumpulan-kumpulan Unitarian yang wujud berdekatan dengan bangsa Yunani yang memangpun berciri Unitarian sebelum Kristus (contohnya orang-orang Hypsistaria). Golongan Binitarian sendiri kemudiannya terpaksa memberi jalan kepada perkumpulan terakhir di bawah kumpulan Athanasia. Kumpulan-kumpulan ini mengambil gelaran katolik untuk diri mereka. Mereka terbahagi kepada tiga cabang utama iaitu Ortodoks, Roman dan Anglikan.
Bangsa Yunani-Roma mengisytiharkan dari Nicea, doktrin homoousios dengan Tuhan. Mereka telah membuat-buat cerita bahawa jika Kristus adalah seorang Tuhan yang lebih rendah, maka keselamatan melalui Kristus adalah terancam. Masalah ini merupakan suatu rekaan yang berdasarkan pada falsafah Yunani yang menyatakan bahawa hanya seorang yang sedarjat dapat menebus atau setara atau sama kasihnya. Agape merupakan suatu konsep Ibrani yang berasaskan pada ahabah dari Kidung Agung.
Kesan dongeng ini adalah ia telah mengalihkan perhatian dari subordinasi yang terkandung di dalam Kitab Suci berkenaan ekonomi atau hukum Tuhan kepada tahap intra-ilahi (lihat juga LaCugna, ibid., halaman 8). Kesannya di sini adalah penutupan Ketuhanan itu dan menaikkan darjat Kristus melebihi umat Syurgawi serta umat pilihan. Dengan itu, takdir umat pilihan untuk menjadi elohim, sama seperti Malaikat Yahovah yang mengepalai keluarga Raja seperti yang kita lihat dari Zakharia 12:8, telah disamarkan dan jelasnya disangkal. Pandangan tertutup terhadap Ketuhanan ini telah tertanam dengan begitu dalam sekali sehinggakan ia dianggap perbuatan tidak beriman untuk mengatakan bahawa Kristus adalah subordinat dalam lingkungan masyarakat umum sedangkan Alkitab jelas menyatakannya begitu.
Para Trinitarian berhadapan dengan masalah demi masalah, semuanya berdasarkan pada falsafah. Aksiom (prinsip): Tuhan tidak boleh menderita. Jika Tuhan tidak boleh menderita maka bagaimanakah dia telah menderita di dalam diri Kristus? Ini dilanjutkan kepada aksiom bahawa Tuhan tidak dapat mati. Jika Dia tidak boleh mati, bagaimanakah Dia telah mati di dalam diri Kristus? Alkitab jelas menyatakan. Yang lebih rendah menebus untuk yang lebih tinggi. Dia yang melayani, menebus dengan pengorbanan diri. Penebusan melalui darah adalah mencukupi (lihat karya Tujuan Penciptaan dan Pengorbanan Kristus [160]). Kumpulan Trinitarian mengelak masalah dengan mengatakan bahawa Kristus telah menderita di dalam kemanusiaannya tetapi tidak di dalam keilahiannya (LaCugna, ibid). Ini menyebabkan Trinitarianisme disamakan dengan doktrin Antikristus, yang sememangnya betul, dan dengan itu definisi di dalam 1 Yohanes 4:1-2 telah diubah dari bentuk asalnya. Kita dapat membentuk semula pernyataan asalnya dari Irenaeus, Ch. 16:8 (ANF, Vol. 1, nota halaman 443).
Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah dan setiap roh yang memisahkan Yesus Kristus tidak berasal dari Allah tetapi adalah dari Antikristus.
Ahli sejarah Socrates mengatakan (VII, 32, halaman 381) bahawa petikan tersebut telah dikorupsikan oleh mereka yang ingin memisahkan kemanusiaan Yesus Kristus dari keilahiannya.
Gregory dari Nazianzus mengembangkan idea bahawa:
Monarki ilahi bukanlah milik 'Allah Bapa' seorang tetapi dikongsi sama rata di antara watak-watak ilahi. [Idea ini] mengandungi tunas-tunas pemahaman aturan sosial yang jauh berbeza (LaCugna, halaman 17 penekanan ditambah). [LaCugna memerhatikan bahawa] kekalahan teologikal doktrin Trinitas kerana terlalu mengambil berat tentang struktur kehidupan dalaman Tuhan juga bermakna kekalahan politiknya (ibid).
Dia kemudiannya mengatakan (ibid.) dalam suatu propaganda campuran fahaman Roma dan Feminist:
Suatu teisme berciri unitarian, kebapaan, monarki serta mempunyai hierarki perlahan-lahan menggantikan monoteisme trinitarian dengan akibat-akibat politik yang buruk. Ahli-ahli teologi Kristian membenarkan setiap jenis hierarki, pengecualian serta corak dominasi, sama ada berbentuk keagamaan, seksual, politikal, kepaderian, perkauman, sebagai 'semulajadi' dan kehendak ilahi.
Doktrin Trinitas dipinggirkan kerana sebab-sebab teologi dan politik. Kemenangan doktrin Trinitas meliputi bukan saja di dalam pemulihannya kepada kedudukan utama di dalam teologi Kekristianan tetapi juga di dalam integrasinya semula sebagai suatu prinsip teologi yang penting yang melampaui serta menentang setiap idea pemerintahan bukan trinitarian.
Ini merupakan suatu pemalsuan sejarah serta propaganda yang jelas. Jemaat secara mutlaknya berciri Unitarian untuk berabad lamanya sewaktu fasanya yang paling murni. Ia bertahan terhadap penganiayaan selama berabad-abad dan menolak sepenuhnya hierarki-hierarki sebagai doktrin para pengikut Nikolaus. Struktur Trinitarian telah dikuatkuasakan dari Constantinople (tahun 381) agar suatu sistem monarki (iaitu empayar) dapat dipertahankan di bawah hierarki kurial Rom. Jemaat ini serta sistem ini telah memperhambakan serta membunuh berjuta-juta umat Kristian atas nama Yesus Kristus demi mempertahankan sistem hierarki tersebut.
LaCugna mengakui:
Sungguhpun tidak ada doktrin Trinitas di dalam Perjanjian Baru, nyatanya terdapat suatu corak binitarian atau trinitarian kepada sejarah keselamatan (ibid., halaman 22).
Ini adalah lanjutan dari posisi yang mendakwa bahawa doktrin Trinitas:
telah mengubah secara drastik gaya-gaya hidup politik dan sosial yang bersesuaian dengan ekonomi Tuhan (ibid., halaman 16)
Jalan pembentukan struktur tersebut bermula dari, dan berasaskan, teologi serta pemerintahan pagan. Itulah sebabnya kenapa kerajaan dunia ini termasuklah Pakatan Dunia Baru (New World Order) pasti akan gagal dan perlu dirobohkan dan struktur milenium Kristus dilaksanakan sesuai dengan hukum-hukum Tuhan. Struktur dunia masakini adalah bertentangan dengan hukum-peraturan Tuhan di dalam bentuk-bentuk asasnya. Ini adalah hasil daripada teologi palsu dan tersembunyi selama berabad lamanya di bawah sistem ortodoks itu. Tiada lagi sistem yang telah mendatangkan kesengsaraan yang begitu banyak kepada manusia, atas nama Tuhan.
Struktur Trinitarian berkembang selama berabad lamanya. Teologi telah diasingkan dari soteriologi atau rencana keselamatan itu seperti yang dinyatakan di dalam penjelmaan Yesus Kristus. LaCugna berpendapat bahawa trajektori ini membawa kepada:
via negativa Pseudo-Dionysius dan, akhirnya, kepada teologi Gregory dari Palamas (Bab 6).
Di Latin Barat, pada zaman sejurus selepas Nicaea, ahli-ahli teologi seperti Hilary Poitiers dan, mungkin pada tahap ekstrim, Marcellus dari Ancrya, tetap berpegang pada pertalian antara hypostases ilahi dan ekonomi keselamatan. Augustine memulakan satu pendekatan yang baru seluruhnya. Titik permulaannya bukan lagi monarki Bapa tetapi unsur keilahian yang dikongsi sama rata oleh tiga watak [penekanan ditambah]. Sebalik mempersoalkan tentang asal-usul theologia seperti mana ia dinyatakan di dalam Penjelmaan Kristus serta deifikasi oleh Roh [penekanan ditambah], Augustine meninjau sisa-sisa Trinitas yang ditemui di dalam jiwa setiap umat manusia. Pengejaran Augustine untuk suatu analogi 'psikologi' bagi hubungan-hubungan intratrinitarian itu akan bermakna bahawa doktrin trinitarian ini kemudiannya akan berpusat pada hubungan-hubungan 'dalaman' Ketuhanan, terpisah dari apa yang kita tahu tentang Tuhaan melalui Kristus di dalam Roh (LaCugna, halaman 44).
Teologi Medieval Latin adalah berunsurkan Augustine serta pengasingan teologi dari ekonomi atau soteriologi. Seluruh struktur tersebut terjerumus ke dalam neo-Platonisme dan Mistisisme.
Pemerhatian-pemerhatian penting LaCugna
adalah bahawa dari Augustine, Monarki Bapa bukan lagi yang terutama. Trinitas
mengandaikan kesepadanan atau kesetaraan bersama. Ini merupakan langkah kedua
berikutan andaian palsu keabadian bersama. Premis yang betul adalah konsep
manifestasi Ketuhanan di dalam setiap individu, iaitu operasi Allah Bapa
melalui Roh Kudus yang terbit
daripadaNya melalui Yesus Kristus. Laluan melalui
Yesus Kristus ini membolehkan Kristus memerhati serta membimbing individu
sesuai dengan kehendak Tuhan yang hidup
di dalam setiap umat pilihan.
Kristus bukanlah asalnya Roh Kudus itu. Dia merupakan pengawas perantaraannya. Dia bertindak bagi pihak Tuhan seperti mana yang telah sentiasa dilakukannya dan sesuai dengan kehendak Tuhan. Namun dia bukanlah Allah itu. Para Trinitarian telah hilang kesedaran mereka tentang hakikat ini, kalaupun mereka pernah benar-benar memahaminya. Seperti yang LaCugna katakan:
Nampaknya teologi Tuhan triune telah ditambahkan kepada idea tentang Tuhan yang satu (halaman 44).
Ini secara asasnya telah mempengaruhi bagaimana umat-umat Kristian berdoa. Iaitu, mereka tidak lagi berdoa kepada Bapa sahaja (Matius 6:6,9) dalam nama Anak seperti yang diperintahkan Alkitab (dari Lukas 11:12), menyembah Bapa itu (Yohanes 4:23), tetapi kini kepada Bapa, Anak dan Roh Kudus. Lebih-lebih lagi, para sarjana telah membentuk suatu metafizik teologi sendirinya. Namun seluruh idea tersebut dibina dengan mengabaikan atau manipulasi Alkitab. Itulah sebabnya kenapa para Trinitarian tidak pernah membincangkan semua teks Alkitab mengenai sesuatu subjek dan menyalahtafsir serta menyalahpetik teks-teks berkenaan yang lain sambil mengabaikan teks-teks yang tidak dapat diubah mereka. Namun sistem mereka adalah berdasarkan Mistisisme dan Platonisme. LaCugna menyatakan bahawa:
Golongan Kapadokia (dan juga Augustine) melampaui batas pemahaman alkitab mengenai ekonomi dengan meletakkan hubungan Tuhan kepada Anak (dan Roh) pada tahap 'intra-ilahi' (halaman 54).
Tuhan yang Satu wujud sebagai ousia di dalam tiga hypostases tersendiri. Kita telah lihat (lihat karya Umat Pilihan Sebagai Elohim [001]) bahawa istilah Platonic ousia serta istilah Stoic hypostases secara asasnya mempunyai maksud yang sama. Pada dasarnya, hujah ini bertujuan untuk memindahkan kedudukan kekuasaan dari Tuhan dan hukum-peraturanNya seperti yang dinyatakan di dalam Kitab Suci, kepada Yesus Kristus sebagai seorang yang setara dengan Tuhan. Untuk mempertahankan sistem Triune dari tuduhan politeisme, Trinitas tersebut haruslah menyatukan ketiga-tiga elemen itu ke dalam satu Tuhan. Ini merupakan modifikasi doktrin Modalisme yang asal, yang berleluasa di Rom namun telah ditolak oleh Kekristianan secara keseluruhannya. Doktrin-doktrin Monarchia dan Circumincession kemudiannya telah direka untuk menerangkan hal yang membingungkan ini.
Penentuan Tuhan mana yang disembah mempengaruhi semua pertimbangan serta semua hal organisasi dan pemerintahan di dalam hukum-peraturan sistem yang digunakan. Alkitab telah menghasilkan suatu sistem hukum-peraturan alkitab yang berdasarkan pada hukum Allah Maha Esa.
Aturan politik Yunani-Roma ingin mempertahankan sistem hukum-peraturannya yang terhasil dari sumber-sumber pagan, dan dengan itu, perlu menyesuaikan iman Kristian itu kembali kepada penyembahan tuhan sistem bangsa lain yang difahami menurut dasar Triune di dalam pelbagai bentuknya. LaCugna menyedari hal ini apabila dia mengatakan bahawa:
Golongan Kapadokia merupakan ahli-ahli teologi yang cukup cekap berspekulasi. Mereka dengan bijaknya telah menggabungkan elemen-elemen neo-Platonisme, Stoicisme, mistisisme, dan pernyataan alkitab untuk menentang Arianisme dan neo-Arianisme (ibid., halaman 10).
Ketuhanan menentukan segalanya, sehinggakan pada idea-idea jenayah dan hukuman. Untuk mengubah sistem tersebut, pihak Yunani-Roma terpaksa mengubah Ketuhanan itu. Mereka kemudiannya perlu mempertahankannya dengan kekerasan.
Perubahan itu telah dicetuskan Binitarianisme yang merupakan langkah pertama di dalam bidaah tersebut. Ianya tidak dapat dipertahankan secara falsafah dan para pengikutnya kemudiannya terdorong ke dalam Trinitarianisme.
Dasar sebenar Binitarianisme adalah suatu limitasi Ketuhanan itu kepada dua makhluk iaitu sebagai dua Tuhan sejati. Apa yang abadi dan kekal selamanya adalah Tuhan sejati. Binitarianisme wujud di dalam Kekristianan secara rasminya dari Sidang Majlis Nicaea pada tahun 325. Selain tidak kukuh secara falsafah, ianya juga tidak berpadanan dengan alkitab. Binitarianisme tidak dapat wujud dengan sendirinya dan dengan itu Trinitarianisme terpaksa dibentuk untuk menjawab kemustahilan dua Tuhan yang sama abadi dan setara bersama.
Pemikiran Binitarian yang tidak membingungkan ini telah sekali lagi diperkenalkan pada abad kedua puluh.
Asalnya, hanya ada kedua Watak Rohani ini, yang wujud sendirinya...Hanya mereka berdua ini, yang setara di dalam pemikiran dan kuasa, kecualilah di mana Tuhan adalah yang tertinggi dari segi kewibawaannya. Mereka satu fikiran, dalam persetujuan mutlak...Semasa waktu abadi sebelum waktu “prasejarah”, telah wujud dua Makhluk Tertinggi ini. Bersendirian! Di dalam kekosongan angkasa! Tiada lagi bentuk-bentuk kehidupan yang lain – tiada lagi makhluk hidup yang lain! Tiada lagi!” (Herbert W Armstrong The Incredible Human Potential, Ambassador College Press, 1978, halaman 36-37; lihat juga Armstrong, Mystery of the Ages, halaman 44-45)
Logik pandangan ini adalah diteisme yang pelik. Jelas sekali ia bukan berdasarkan Alkitab dan menyangkal kesaksian Kristus mengenai pengetahuannya dan kuasanya yang terbatas serta pergantungannya ke atas Bapa.
Harus diingati bahawa doktrin-doktrin kelompok-kelompok di Nicea adalah silap dan mereka sendirinya, termasuklah golongan Athanasia (yang sekarang ini adalah Katolik), tidak pasti apakah sebenarnya posisi tersebut. Selewat tahun 380, Gregory dari Nazianzen (atau Nazianzus, salah seorang dari kelompok Kapadokia yang telah menyokong serta membentuk Trinitas, telah membuat pernyataan yang menarik ini:
Antara yang bijaksana di kalangan kami, ada yang menganggap Roh Kudus itu sebagai suatu pengaruh, ada sebagai makhluk ciptaan, ada sebagai Tuhan Sendiri ((oi de theon) dan yang lain lagi tidak tahu apa yang harus diputuskan, sebagai penghormatan, kata mereka, terhadap Kitab Suci, yang tidak menyatakan apa-apa yang jelas di dalam keadaan ini. Untuk sebab ini mereka ragu-ragu antara menyembah atau tidak menyembah Roh Kudus itu, dan mengambil jalan tengah yang sebenarnya satu keputusan yang tidak baik (lihat juga Schaff, fnn. 5,6, halaman 664). Basil pada tahun 370, masih lagi mengelak dari memanggil Roh Kudus sebagai Tuhan, namun dengan tujuan untuk mengambil hati mereka yang lemah. Hilary dari Poietiers (sic) mempercayai bahawa Roh itu, yang menyelidiki hal-hal tersembunyi dalam diri Tuhan, semestinya adalah ilahi, namun tidak menemui sebarang petikan Alkitab di mana ia dipanggil Tuhan, dan membuat keputusan bahawa dia harus berpuas hati dengan kewujudan Roh Kudus yang diajarkan Alkitab dan yang diakui hati nurani (De Trinitate, ii, 29; and xii, 55; cf., Schaff, ibid.).
Schaff meneruskan perbincangan mengenai hal ini seperti berikut.
Namun jemaat tidak mungkin berpuas hati dengan hanya dua di dalam satu. Formula pembaptisan serta ucapan selamat para rasul, seperti lagu-lagu pujian tradisional trinitarian, meletakkan Roh Kudus setara dengan Bapa dan Anak, dan menuntut suatu perwatakan bertiga ilahi yang bersandar pada kesatuan intisari. Tritunggal ilahi boleh mengandungi ketidaksetaraan intisari, dan tiada campuran Pencipta dan ciptaan. Athanasius sedar tentang hal ini, dan menyokong dengan keputusan kewujudan bersama Roh Kudus, menentang Pneumatomachi atau Tropici (gelaran bagi orang-orang Makedonia).
Masalah sebenarnya adalah bahawa doktrin itu belum ditetapkan. Pandangan Athanasius ini telah diambil juga oleh Basil, Gregory dari Nazianzus, Gregory dari Nyssa, Didymus dan Ambrose (Schaff, ibid). Doktrin ini telah ditetapkan dari Sidang Alexandria pada tahun 362, di Rom pada tahun 375 dan akhir sekali di Constantinople pada tahun 381. Doktrin ini telah digunakan untuk merumuskan satu sistem kerajaan yang berciri empayar dan transnasional. Dominasi sedunia merupakan matlamat utama sistem ini. Ianya begitu kerana pergelutan penguasaan sepenuhnya antara dua struktur rohani.
Posisi Unitarian adalah berdasar nasional, dan sistem Eropah di bawah binatang Roma itu ingin untuk mencipta satu sistem di dalam empayar tersebut yang boleh mempergunakan Kekristianan. Binitarianisme tidak keruan secara falsafah, dan tidak disokong Alkitab. Unitarianisme mengajarkan pengadilan nasional yang berdasarkan pada pengadilan Tuhan, menurut Berkat dan Sumpahan di bawah hukum Tuhan. Roma merupakan sistem pagan, dengan satu sistem hukum pagan, dan Tuhan Triune merupakan dasar struktur agama Eropah ini. Konflik hukum-peraturan ini telah memulakan Perang-perang Arian, sebelumpun ia memasuki Eropah, di antara bangsa Yunani dan apa yang dipanggil sebagai bangsa Scythia. Unitarianisme, atau Arianisme seperti mana ia disalahpanggil (dengan andaian bahawa definisi-definisi Katolik adalah tidak betul), bertentangan dengan sistem hukum-peraturan Iblis. Gambar kepada binatang Roma (Daniel 2:33, 40-43; 8:21-27) harus dibentuk seperti yang diramalkan oleh Wahyu 13:14-15. Dasar masyarakat barat adalah berasas pada hukum-peraturan pagan ini. Itulah sebabnya ia tidak boleh terus hidup.
Sifat Tuhan menentukan sifat kerajaan. Atas sebab ini, sistem-sistem hierarki mempertahankan melalui penganiayaan, Ketuhanan mereka yang terhad dalam lingkungan sistem diteis atau Triune. Jemaat-jemaat pada abad kedua puluh tiada bezanya dengan mereka.
Foakes-Jackson memahami unsur kepolitikan yang tersirat di dalam pergelutan antara konsep-konsep Tuhan pihak Teutonik dan pihak Roma. Sebenarnya kedua-duanya mempunyai dasar yang salah. Dia mengatakan:
Kami percaya bahawa fahaman Arianisme orang-orang Visigoth, Lombard, Vandal, dan sebagainya, tidak lebih dari satu fasa di dalam pergelutan kepaderian antara konsep Kekristianan Teutonik dan Roma. Suku kaum biadap mengingini Jemaat nasional mereka sendiri, dan apabila mereka menemui satu bentuk Kekristianan yang dapat mengasingkan mereka dari kependetaan daerah dan yang bebas yang dibencikan di dalam Empayar itu, mereka berpegang erat padanya dengan penuh keangkuhan sebagai bangsa yang menakluki. Penghormatan alamiah mereka terhadap tamadun Roma membuatkan mereka secara umumnya bertoleransi terhadap agama yang disokongnya; dan di mana mereka disebutkan sebagai penganiaya, mungkin sekali motifnya adalah dari segi politik.
Kelemahan yang memang sedia ada di dalam kaum biadap yang menakluki kawasan Roma itu adalah ketidakmampuan mereka untuk organisasi, sementara kekuatan orang-orang Roma di dalam pemerintahan sivil dan kepaderiannya terletak di dalam satu sistem yang telah diuji oleh pengalaman berabad-abad lamanya. Golongan Arian tidak dapat memelihara diri mereka seperti juga dengan kerajaan-kerajaan Teutonik yang tidak tahan lama, dan para pendeta mereka akhirnya terpaksa tunduk kepada gereja-gereja kedaerahan Roma yang lebih berdisiplin. Penghapusan Arianisme sebagai sistem saingan merupakan salah satu faktor terpenting di dalam pembentukan tamadun Eropah moden; kerana kalaulah kaum biadap penakluk itu berpegang pada satu bentuk Kekristianan sementara bangsa yang lebih lemah percaya pada bentuk lain, maka tidak mungkin akan adanya kemajuan. Sungguhpun feudalisme zaman kegelapan begitu menindas sekali, ianya pasti tidak tertahan lagi jika penakluk-penakluk itu tidak memiliki kepercayaan serupa di dalam Kekristianan yang menggalakkan pertimbangan terhadap mereka yang ditakluki (F. J. Foakes-Jackson, artikel Arianism, ERE, Vol. I, halaman 783).
Kata-kata berpendua ini merupakan kelaziman sikap pembenaran diri pihak Trinitarian. Demi mempertahankan sistem Roma terhadap sistem Unitarian (yang disebut Arian), golongan paderi Roma telah mempergunakan kuasa orang-orang Frank untuk mengadakan perang dengan kawasan Eropah yang lain, negeri demi negeri, sehinggalah mereka telah menundukkan sistem-sistem saingan Arian yang lebih bertoleransi sementara mereka masih lagi dalam keadaan peralihan. Gereja Roma telah menjerumuskan Eropah ke dalam Zaman Kegelapan agar ia dapat merebut kuasa mutlak dan menabalkan sistem Roma, dan membuat gambar kepada binatang itu. Sistem ini bertahan dari tahun 590 hingga tahun 1850 atau selama 1,260 tahun (lihat karya-karya Distribusi Umum Jemaat Pemelihara Sabat [122] dan Peranan Hukum Keempat di dalam Jemaat-jemaat Tuhan Pemelihara Sabat dalam Sejarah [170]).
Ia seharusnya jelas bahawa sifat Tuhan adalah yang penting kepada sistem kerajaan yang dipakai oleh sesuatu bangsa atau kumpulan itu. Iblis telah diberikan tempoh enam ribu tahun untuk membentuk satu sistem yang memerintah bumi dengan keadilan, sesuai dengan sifat Tuhan. Sebaliknya, dia telah memilih untuk memakai satu sistem yang bertentangan dengan sifat Tuhan, yang berpadanan dengan suatu Ketuhanan yang menggambarkan sifatnya sendiri serta teologi pemberontaknya. Sistem Triune adalah simbolnya dan ditempatkan melawan, atau bertentangan kepada hukum-hukum Tuhan. Namun begitu, Iblis dan para iblis syaitan beroperasi dalam lingkungan batasan yang dikenakan Tuhan ke atas mereka. Dalam tempoh yang singkat, penguasaan Iblis akan berakhir. Kita dipanggil keluar dari dunia ini serta penyembahan tuhan dunia ini kepada suatu pemahaman akan Allah yang Maha Esa dan hukum-peraturanNya. Itulah sebabnya kenapa kita berkonflik dengan sistem-sistem dunia dan dianiaya.
Tuhan
dan PemerintahanNya di dalam Keluarga Tuhan
Anak-anak Tuhan
Telah wujud anak-anak Tuhan sebelum penciptaan dunia ini (Ayub 38:4-7). Anak-anak Tuhan ini disusun di dalam suatu struktur di bawah pimpinan Bintang-bintang Fajar atau Para Pembawa Terang. Dalam kata lain, setiap pemimpin umat syurgawi itu mempunyai tugas mengajar dan menggembala. Ini dilanjutkan kepada hubungan antara bani syurgawi ini dengan manusia.
Godaannya, apabila membaca Alkitab, adalah untuk memaksa konsep-konsep kita sendiri ke atas struktur yang digariskan dan membuat andaian-andaian mengenai makhluk-makhluk yang dikenalpasti dalam lingkungan batas pemahaman kita yang dibiasakan menerima pandangan dunia ini seperti mana yang diajar oleh tuhan dunia ini. Para rasul berbuat begitu sebelum kesedaran mereka apabila mereka bertengkar mengenai siapa yang akan menjadi yang terbesar di dalam Kerajaan itu nanti. Kristus menegur mereka dan mengatakan bahawa ianya bukan begitu dengan mereka. Makhluk-makhluk Kerajaan Tuhan adalah mereka yang melayani (Lukas 22:24-26; lihat juga Markus 10:42).
Lukas 22:24-26 Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. 25 Yesus berkata kepada mereka: "Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. 26 Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.
Mengikut rangka inilah kita patut perhatikan organisasi bani syurgawi seperti yang dikembangkan dari catatan Alkitab. Peranan serta fungsi individu-individu haruslah difahami dalam batas-batas kerangka ini. Dengan itu, pertikaian-pertikaian yang timbul dapat difahami dari kehendak serta konflik yang timbul sebagai akibat batas-batas rohani ini. Dengan itu dapat dirumuskan bahawa perlantikan elohim ke dalam sidang-sidang dan sebagai pemimpin atau utusan tidak melibatkan fungsi hierarki. Ini adalah kesilapan utama yang dibuat di dalam memahami pemerintahan Tuhan. Malahan, salahfaham ini melanjut kepada proses penciptaan dan perkongsian kuasa-kuasa Tuhan, sejak dari waktu penciptaan, dengan bani syurgawi. Trinitas, serta pendahulunya yang membingungkan iaitu Binitarianisme, menyerang tepat pada sifat Tuhan serta kemampuan yang ditunjukkan Tuhan untuk berkongsi kuasaNya dengan anak-anakNya yang semuanya adalah hasil aktiviti dan kuasaNya.
Waktu, Metafizik dan
Penciptaan
Persoalan mengenai permulaan adalah relevan kepada sifat Tuhan. Pendapat alkitab adalah bahawa hanya Allah seorang sahaja yang abadi (1 Timotius 6:16). Para Binitarian cuba untuk mengelak isu doktrin keabadian dengan menyangkal metafizik konsep waktu. Waktu adalah suatu hubungan antara benda yang wujud. Oleh itu, harus ada satu titik di mana waktu bermula jika adanya seorang Tuhan sebenar (Yohanes 17:3). Mengatakan bahawa waktu adalah abadi hanya dapat disokong satu situasi di mana dua atau lebih objek berdiri secara relatif dengan satu sama lain, selamanya. Waktu, ruang, jisim, tenaga adalah ekspresi sama suatu intisari asas yang tunggal. Kita menggelar benda ini sebagai roh. Tuhan adalah roh.
Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.
Masalahnya mungkin adalah, oleh kerana Tuhan adalah roh dan oleh kerana waktu, ruang, jisim, tenaga dan sebagainya merupakan ekspresi-ekspresi sama dari intisari asas tunggal ini, maka waktu boleh dikatakan telahpun wujud apabila roh wujud. Kerana Tuhan adalah abadi, maka begitu juga waktu adalah abadi. Hujah ini tidak berdasarkan alkitab (lihat bawah). Hujah ini menimbulkan persoalan Bagaimana pula dengan kepelbagaian Roh-roh Tuhan? Tujuh malaikat itu adalah tujuh roh Tuhan. Oleh itu mereka juga sepatutnya telah sentiasa wujud.
Namun begitu, jemaat awal, menganggap bahawa mereka adalah ciptaan awal Tuhan. Roh Kudus serta enam utusan lain merupakan roh-roh yang dicipta dari permulaan ((Shepherd of Hermas, Bk. 1, Ch. iv, ANF, Vol. II, halaman 14).
Oleh itu, adanya satu titik di mana roh itu menjadi relatif dan bukan hanya terkandung di dalam intisari ilahi itu sebagai satu ciri Tuhan. Allah wujud di dalam keabadianNya yang sentiasa ada. Dia satu-satunya yang abadi (1 Timotius 6:16). Tuhan adalah Raja segala zaman (1 Timotius 1:17; rujuk teks Yunani Tobit 13:6, 10) dan Allah segala zaman (theos tõn aiõniõn, rujuk Ecclus. 36:17; Yesaya 9:6; Yeremia 10:10). Aktiviti penciptaan Tuhan memulakan relativiti Roh dan dengan itu, waktu. Tuhan melanjutkan kemampuan untuk menjadi kekal kepada anak-anak Tuhan dari penciptaan mereka. Dengan penciptaan roh yang bebas bergerak atau merdeka, sebagai makhluk berakal yang berinteraksi dengan Tuhan, maka waktu bermula.
Tuhan seorang memiliki sifat maha mengetahui sebagai satu cirinya. Tuhan telah mengetahui segala pekerjaanNya sejak keabadian. Pemberontakan itu telahpun diketahui sebelumnya dan, dari situ juga, Anak Domba Allah sudahpun diketahui lebih awal sebelum penciptaan alam semesta fizikal (1Petrus 1:18-20; lihat pelbagai terjemahannya untuk memahaminya) yang ia akan diserahkan untuk disalibkan, melalui maksud dan rencana Tuhan (Kisah 2:22-23).
Pernyataan ini juga penting, dari sifat maha mengetahui ini, bahawa kasih karunia telahpun diberikan sebelum permulaan zaman/waktu (2Timotius 1:9; waktu abadi; chronõn aiõniõn, lihat The Interlinear Bible; disalahtulis sebagai sebelum dunia bermula, KJV). Oleh itu, kasih karunia adalah hasil kemahapengetahuan itu, atau pemahaman yang tidak terbatas, milik Bapa (Mazmur 147:5) sebelum waktu bermula. Hidup kekal juga adalah suatu hasil kemahapengetahuan ini sebelum zaman bermula (Titus 1:2). Tuhan mengisytiharkan yang hujung dari permulaan, kerana Ia Allah yang esa (1Timotius 1:17). Penetapan takdir ini sama sekali tidak menghalang kehendak bebas makhluk ciptaan sama ada rohani ataupun fizikal.
Oleh itu, penciptaan itu adalah hasil dari Bapa yang mempunyai suatu siri ciri-ciriNya yang dikongsikanNya melalui pembahagian dengan anak-anak Tuhan. Hanya Allah Bapa seorang yang:
1. Wujud sendiri dan kerana itu abadi (Yohanes 5:26; 1Timotius 6:16)
2. Maha mengetahui (Yesaya 46:10; Mazmur 147:5; Matius 24:36; 1Timotius
1:17)
3. Maha kuasa (Markus 14:36; Lukas 1:37)
4. Tidak berubah (Yakobus 1:17; Maleakhi 3:6)
5. Allah benar yang satu dan sumber hidup kekal (Yohanes 17:3; 1Yohanes
5:20)
6. Dia tinggal dalam terang yang tidak boleh dihampiri dan tiada
seorangpun yang pernah melihatNya atau yang akan dapat melihatNya (Yohanes 1:18;
1Timotius 6:16) kerana Dia adalah roh (Yohanes 4:24)
7. Dia adalah pencipta segala sesuatu, melalui Kristus. Melalui
kehendak Allah segala sesuatu wujud, dicipta menurut dan untuk kehendakNya
(Mazmur 134:3; Kolose 1:15; Ibrani 1:2; Wahyu 4:11). Dia adalah sumber
kehidupan (Mazmur 36:9; Yohanes 5:26).
Posisi Binitarian adalah bahawa kedua-dua Tuhan dan Kristus telah sentiasa wujud, oleh itu tidak ada permulaan waktu. Waktu dipercayai adalah abadi tanpa penghujung. Posisi ini jelas sekali bertentangan dengan Alkitab di mana ia percaya pada kewujudan dua Allah sebenar, dan Yohanes mengatakan terdapat hanya seorang Allah sebenar dan bahawa Kristus telah diutus olehNya (Yohanes 17:3; 1Yohanes 5:20). Para Trinitarian menyedari ketidaktentuan hujah ini, kerana ianya posisi dari mana mereka muncul. Pihak Trinitarian berhasrat menegaskan bahawa Allah benar yang satu adalah terdiri dari tiga orang yang, bersama-sama, membentuk Allah yang maha esa. Dengan itu, mereka dapat menyatakan, waktu adalah abadi kerana ia adalah hubungan antara watak-watak ilahi ini. Kedudukan relatif Bapa, Anak dn Roh Kudus dianggap sebagai fungsi-fungsi Ketuhanan. Bapa dikatakan adalah Bapa yang abadi. Anak adalah hasilan dari Bapa namun telah wujud abadi. Roh dipercayai adalah suatu perkembangan Bapa (Ortodoks) atau dari Bapa dan Anak (Filioque: Roman Katolik dari Majlis Toledo). Oleh itu, para Trinitarian mempercayai bahawa Anak adalah suatu Generasi (Hasilan) Bapa, namun tiada ketikanya apabila Anak itu tidak wujud. Begitu juga dengan Roh Kudus. Pandangan ini tidak masuk akal dari segi intelektual dan bertentangan dengan Alkitab. Tiada sebarang hubungan Bapa dan Anak yang dapat didasarkan pada premis sebegitu dalam sebarang struktur bahasa mahupun logik.
Anak Allah yang telah menjadi satu-satunya Tuhan yang diperanakkan adalah Kristus (Yohanes 1:18; monogenes theos: lihat Hort, On [monogenes theos] in Scripture and Tradition in Two Dissertations, Cambridge and London, 1876, halaman 541 dan seterusnya) iaitu penjelasan bagi hal ini di dalam pertikaian-pertikaian dari tahun 1861 (berikutan posisi Abbot (Bibl. Sacr. Oct 1861; Unitarian Review, Jun 1875) terhadap artikel dari Drummond (Theol. Rev. Oct. 1871) dan telah menjadi dasar untuk teks itu menurut Hort dan juga dari Tregelles) (lihat Thayer [monogenes], halaman 418). Kristus adalah Mesias (Mazmur 2:2; Yohanes 1:41) dan Anak Allah (Eloah) (Yohanes 20:17; 1Yohanes 5:5; Amsal 30:4-5) yang lahir dari perawan Maria (Yesaya 7:14-15; Lukas 1:30-33). Dia telah dihantar untuk menebus penciptaan dan mendamaikan manusia kepada Tuhan sebagai Juruselamat (Roma 5:10; 8:19-23; Kolose 1:20; 1Timotius 2:4-6).
Oleh itu, ada ramai anak-anak Tuhan. Kristus adalah yang sulung dari bani syurgawi namun adalah satu-satunya Tuhan yang dilahirkan. Maka terdapat ramai anak-anak Tuhan yang lahir secara roh namun Kristus adalah satu-satunya elohim yang telah diperanakkan sebagai manusia. Dari segi ini, dia adalah prõtotokos atau sulung dari segala makhluk (Kolose 1:15), antara ramai saudara (Roma 8:29) dan yang pertama bangkit dari yang mati (Kolose 1:18). Dalam cara ini kita adalah perkumpulan dan jemaat sulung atau pertama (Ibrani 12:23). Jelas sekali kita bukanlah yang sulung dari struktur manusia. Kita adalah yang pertama dari orang mati di dalam kebangkitan pertama itu. Oleh itu, terdapat perkembangan perbezaan di dalam sifat anak-anak Tuhan sepanjang fasa penciptaan ini. Mereka yang diambil sekarang ditakdirkan menjadi elohim, sebahagian dari keluarga raja, seperti mana Malaikat Yahovah adalah elohim yang mengepalai mereka (Zakharia 12:8). Kristus menjadi anak Tuhan yang berkuasa melalui Roh Kudus dari kebangkitannya dari mati (Roma 1:4). Bagaimanapun, para malaikat adalah saudara-saudara sebagai anak-anak Tuhan (Wahyu 12:10). Mereka telah diutus sebagai roh-roh pelayanan untuk membantu kita melalui fasa ini (Ibrani 1:14) (lihat karya Tujuan Penciptaan dan Pengorbanan Kristus [160]). Kristus telah melepaskan pangkatnya serta kekuasaannya di antara anak-anak Tuhan untuk menjadi manusia. Dia setia hingga pada mati (Filipi 2:6). Dia berada di dalam bentuk tuhan kerana memiliki sifat ilahi itu namun telah melepaskan kuasanya ini yang telah diterimanya dari Allah melalui Roh Kudus dan menjadi manusia. Dia tidak berusaha untuk mencapai kesetaraan dengan Allah, seperti mana yang Iblis telah cuba lakukan (Filipi 2:6). Dia meningkat darjatnya melalui apa yang telah dideritainya, taat kepada Dia yang telah menciptanya (diterjemahkan sebagai ditetapkan di dalam teks-teks, Ibrani 3:2). Sungguhpun dia seorang anak, dia telah belajar untuk taat dari apa yang dilaluinya, dan setelah dijadikan sempurna dia menjadi pokok keselamatan kepada mereka yang taat kepadanya, dipanggil oleh Tuhan sebagai Imam Besar menurut aturan Melkisedek (Ibrani 5:8-10; rujuk Mazmur 110:4).